Wednesday, March 24, 2010

Afiliasi Keyakinan Terhadap Ekonomi Syari'ah

Assalamu”alaikum Wr.Wb.

Berbicara mengenai tauhid serta kaitannya terhadap ekonomi syari’ah dapat kemudian kita terjemahkan dalam karakteristik tingkatan iman manusia yang terbagi ke dalam tiga kategori iman, yaitu:

1. Iman Taqlid
Karakter iman seperti ini cenderung tidak memiliki landasan pemikiran yang jelas terhadap identitas ideology muslim yang dimilikinya. Dalam arti mereka sadar bahwa mereka adalah seorang muslim, namun di atas kesadaran bahwa mereka adalah seorang muslim mereka belum sadar mengapa mereka menjadi seorang muslim.
Hal inilah yang kemudian sangat erat kaitannya dengan bagaimana afiliasi sebagian besar umat muslim di Indonesia terhadap Ekonomi Syari’ah baik dalam perjuangan dakwahnya maupun pada taraf pengikutnya. Sedikit menyinggung dalam kaitannya dengan perjuangan dakwah ekonomi syari’ah oleh sekelompok komunitas penggerak dakwah ekonomi syari’ah yang kian menjamur dewasa ini.
Tidak sedikit kita melihat banyak diantara kita sebagai pejuang-pejuang dakwah ekonomi syari’ah yang landasan keyakinanya terhadap ekonomi syari’ah sebatas factor structural-cultural atau sekedar factor emosional saja. Secara structural-cultural, keberadaan mereka dalam barisan juang ekonomi syari’ah hanya sebatas karena mereka berada dalam lingkungan muslim semata tanpa kemudian disertai dengan kematangan pemikiran yang jelas tentang mengapa mereka memperjuangkan ekonomi islam.
Contoh: “Saya adalah seorang muslim dan saya sekarang kuliah di Fakultas Ekonomi maka saya harus ikut organisasi ekonomi syari’ah di kampus saya.”
Berikutnya secara emosional, mereka memiliki pemikiran ilmiah yang baik terhadap ekonomi syari’ah bahkan memiliki komitmen emosi yang kuat terhadap ekonomi syari’ah namun tidak memiliki landasan tauhid yang kuat terhadap ekonomi syari’ah serta tidak memiliki tahapan afiliasi yang baik terhadapnya.
Contoh: Ketika seorang ikhwah ekonomi syari’ah yang atas dorongan statusnya dalam kepengurusan organisasi ekonomi syari’ah lantas secara emosional memaksakan diri menetapkan standar keterikatan mereka terhadap ekonomi syari’ah yang terlalu berlebihan sehingga memberatkan mereka dalam perjalanan dakwahnya sendiri. Contoh: “Sebagai seorang penggiat ekonomi shari’ah maka saya tidak akan pernah menggunakan sekalipun dan sedikitpun produk-produk ekonomi konvensional.” Padahal standar kehidupan seperti ini belum pernah ada dalam kehidupannya mereka sebelumnya. Sehingga hal inilah kemudian yang menjadi alasan utama kenapa kemudian banyak diantara jundi-jundi dakwah ekonomi syari’ah itu sendiri yang futur di tengah jalan karena tidak kuat menerapkan standar keberikatannya yang berlebihan dalam aktivitas hidupnya sehari-hari.

2. Iman AL-Burhani
Karakter iman dengan dasar argumentasi dan pemikiran ilmiah yang kuat terhadap ekonomi syari’ah. Karakter iman pada tingkatan ke dua ini cukup banyak dimiliki oleh para penggiat ekonomi syari’ah terutama mereka-mereka yang memang secara khusus mendalami pengetahuannya terhadap ekonomi syari’ah. Namun tidak hanya kemudian mendatangkan efek positif saja karena tidak sedikit kemudian diantara mereka justru dengan pemahaman pemikirannya yang mendalam malah justru banyak mengkritisi keberadaan ekonomi syari’ah yang berkembang saat ini. Ini terkait dengan aspek “ikhtilaf” atau perbedaan pendapat yang memang seringkali ditemui dalam pemahaman-pemahaman fiqih syari’ah di kalangan para ulama atau ahli fiqih di dalamnya. Masih ada di antara ahli ekonomi syari’ah kita yang secara tegas mengkritisi skema mudharobah paralel yang banyak dikembangkan di lembaga perbankan syari’ah kita karena dianggap tidak sesuai dengan ketentuan fiqih syari’ahnya. Namun di atas itu semua tentunya mereka tetap mendukung pengembangan ekonomi syari’ah itu sendiri. Dan tentu keberadaannya tetap harus di hormati sebagai keragaman sekaligus koreksi atau penjagaan perjalanan ekonomi syari’ah itu sendiri sehingga tetap sesuai koridor bakunya.

3. Iman Al-Shuhudi wa Al-Ishraqi
Adalah karakter iman yang menyentuh pada tingkatan seorang ihsan. Dimana landasan afiliasi mereka terhadap ekonomi syari’ah didasarkan mata bathin manusia itu sendiri yang telah mampu menerjemahkan aturan ALLAH dalam kaitannya dengan ekonomi syari’ah. Secara sadar mereka meyakini bahwa ekonomi syari’ah merupakan fitrahnya system ekonomi di dunia. Sehingga keterikatannya kepada ekonomi syari’ah tidak hanya dilandasi dengan pemikirannya yang kuat saja melainkan juga karena keterikatan mata bathinnya yang kuat terhadap ALLAH SWT dan uturan hidup yang telah dibuat-NYA. Inilah tingkatan iman pada level sebaik-baiknya iman terhadap ekonomi syari’ah. Semoga kita termasuk di dalamnya.

Itulah mungkin sedikit bahasan mengenai bagaimana karakteristik dari tiga kategori iman manusia terkait dengan bagaimana afiliasi seorang muslim terhadap ekonomi syari’ah secara umum. Semoga bermanfaat. InsyaALLAH…

Wallahu’alam bisshowwab…
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

No comments: