Monday, October 19, 2009

-kembali-


>>> menuju ekonomi syari’ah <<<

Potret kemiskinan bangsa kini kian menganga.. semakin jauh rasanya jarak itu dibuatnya.. kaya miskin semakin jelas terpampang nyata, akibat sistem yang melenakan kita semua…

Sadarkah kita tergiring tuk menjauhi mereka.. sadarkah kita dibodohi sistem dunia.. sadarkah kita kian mendzolimi mereka.. sadarkah kita turut menambah jumlah mereka2 yang sama.. SADARKAH KITA TELAH INGKAR DARI JALAN-NYA…?????

Inilah aku dan indonesiaku…
Aku ada di sana dan ku sadari itu semua…
Tapi ku hanya bisa terpaku, membisu tanpa berbuat apa2…

“itu adalah takdirnya, peduli apa aku dengannya!!!”
Kata2 bodoh yang hanya dimiliki oleh orang2 bodoh...
Seperti itulah dulu nggapanku untuk mereka...

Siapa mereka & mengapa semua itu ada???

Bodohnya aku menganggap mereka bukanlah siapa2…
Bodohnya aku menganggap mereka hanya benalu bangsa…
Bodohnya aku membiarkan mereka berjalan begitu saja apa adanya…

Mereka ada karena kita ada…
Mereka ada karena sistem yang memaksa mereka…

Sistem kapitalis yang membuat mereka semakin miris…
Sistem kapitalis yang membuat mereka semakin menangis…
Sistem kapitalis yang membuat kita semakin bengis…

Kapitalisme membuat mereka jauh dari berada…
Kapitalisme memaksa kita berlomba-lomba menjauhi mereka…
Kapitalisme ada karena kita membiarkan itu ada…

Bukan lagi kemudian menyalahkan itu semua…

Hakikat jalan sudah ada…
Kembali pada jalan-NYA dan raih itu semua…
Kembali pada syariat-NYA kerena itu adalah fitrahnya…
Kembali pada orbit-NYA dan maknai tiap jalan lintasan-NYA…

Syariat tidak semata-mata membatasi kita…
Syariat tidak semata-mata mengekang kita…
Syariat tidak semata-mata menghukum kita…

Syariat ada untuk menjadikan kita lebih mulia…
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Kebahagiaan hidup bukan diukur pada diri semata, kebahagiaan hidup diukur dari kehidupan-kehidupan di sekelilingnya…

Keberadaan kita bukan semata-mata untuk kita…
Kita ada untuk mereka… mereka berharap pada kita… & mereka mununggu kita memulainya…

insyaALLAH...

-karakter bangsa terhadap ekonomi syari'ah-


-karakter bangsa terhadap ekonomi syari’ah-

Perkembangan sistem ekonomi syari’ah yang kian pesat tidak hanya dirasakan bangsa Indonesia yang notabenenya merupakan Negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Sistem ini terbukti kian berkembang di beberapa Negara non-muslim yang tergolong Negara maju, sebut saja Inggris yang semakin progressif mengembangkan ekonomi berbasis syari’ah yang terutama terlihat jelas pada perkembangan industri perbankan syaria’ah Inggris yang kemudian melahirkan sebuah bank umum syariah.

Titik tolak perkembangan ekonomi syari’ah secara nyata tergambar semenjak jatuhnya perekonomian dunia yang dipicu oleh bobroknya kondisi ekonomi AS pada taun 2008. Dampak dari semua itu terutama sangat dirasakan oleh industri-industri keuangan termasuk perbankan dan sejumlah perusahaan besar yang aktivitasnya berbasis pada system bunga. Asialink Islamic Banking Colloquium yang di selenggarakan di Melbourne telah mendengar bahwa bank syariah berhasil keluar dari krisis ekonomi dengan memegang prinsip-prinsip syari’ah dalam menghimpun keuntungan dan bagi hasil antara bank dan nasabah.

Sementara bagi perusahaan-perusahaan besar, prinsip-prinsip ekonomi syari’ah yang mengedepankan peningkatan aktivitas ekonomi sektor riil terbukti mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul akibat krisis ekonomi global tersebut. Secara nyata, berbagai aktivitas ekonomi perusahaan yang menyentuh nilai-nilai atau koridor pada prinsip ekonomi syari’ah mampu bertahan ditengah carut-marutnya kondisi perekonomian dunia. Di saat berbagai perusahaan yang berkiblat pada sistem ekonomi ‘ribawi’ mulai jatuh runtuh dari masa keemasannya, perusahaan-perusahaan baik skala kecil maupun besar yang mengikat diri pada konsep ekonomi syari’ah mampu berdiri tegak untuk tetap mempertahankan jati dirinya di medan juang ekonomi dunia.

Namun demikian kondisi di atas ternyata tidak kemudian membuka lebar mata sebagian besar penduduk Indonesia akan keberadaan ekonomi syari’ah sebagai fitrahnya sistem ekonomi dunia. Hal ini terlihat dari bagaimana karakteristik seseorang dalam memandang keberadaan ekonomi syaria’ah atau perbankan syari’ah khususnya.
1. Mereka yang memegang ekonomi syari’ah berdasarkan aqidah.
Dengan landasan iman yang kuat serta murninya aqidah, mereka yakin bahwa syariah’ah dengan ekonomi syari’ah syari’ah khususnya merupakan sistem yang akan membawa mereka pada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Mereka percaya behwasannya ekonomi syari’ah adalah sebenar-benarnya hukum yang mengatur kehidupan ekonomi manusia. Mereka pegang prinsip ekonomi syari’ah tanpa kemudian mengingkari ketentuannya (tidak mengkritisi keberadaannya).
2. Mereka yang memegang ekonomi syari’ah berdasarkan ilmunya (kritis terhadap keberadaan ekonomi syari’ah).
Pengetahuan mereka terhadap kebaikan sistem ekonomi syari’ah membawa mereka untuk kemudian berpegang pada syari’ah. Tidak jarang pengetahuan-pengetahuan yang mereka dapat muncul dari pengalaman-pengalaman empirik tentang kebaikan sisitem ini, baik itu pengalaman yang mereka alami sendiri maupun berasal dari pengamatan terhadap keberhasilan orang lain memegang prinsip ekonomi syari’ah. Keberpihakannya kepada ekonomi syaria’ah disertai juga dengan pandangan kritis mereka terhadap perkembangan-perkembangan ekonomi syaria’ah selanjutnya. Ada upaya selektif mereka terhadap keberadaan hukum yang ada serta upaya pengawasan terhadap munculnya aturan-aturan baru yang muncul mengatasnamakan ekonomi syari’ah.
3. Mereka yang dengan ilmunya justru menolak keberadaan ekonomi syari’ah serta kritis terhadapnya.
Di sinilah kemudian pentingnya keselarasan atau keharmonisan antara ilmu dan iman pada pribadi-pribadi manusia. Ilmu yang hanya berorientasi dunia dan untung semata tanpa kemudian diimbangi dengan kualitas iman yang menjadi pondasinya justru hanya akan berakhir pada pengingkaran diri terhadap fitrah jalan hidup yang telah di atur-NYA. Masih banyak diantara kita yang dengan mengatasnamakan ilmu yang dikuasainya justru menghujat tajam keberadaan system ekonomi syari’ah tanpa kemudian melangkah untuk memperbaiki sistem yang telah ada. Mereka hanya sekedar pemikir tanpa kemudian mau untuk mengukir.
4. Mereka yang memegang ekonomi syari’ah tanpa dasar ilmu yang mengiringinya. (menyamakan keduanya dan memilih ekonomi syari’ah)
Cenderung menjadi follower terhadap sistem yang ada. Mereka akan mengikuti apa yang baik dan mereka lihat dan rasakan terlebih dahulu keberadaannya tanpa kemudian mempertanyakan kenapa mereka harus memilihnya. Seharusnya mereka ini menjadi ladang potensial bagi para penggiat ekonomi syari’ah untuk semakin membumikan jatidirinya.
5. Mereka yang tanpa ilmu menolak keberadaan ekonomi syari’ah. (menyamakan keduanya dan memilih ekonomi konvensional)
Cenderung jauh lebih berbahaya dari mereka yang dengan ilmu mnolak keberadaan ekonomi syaria’ah. Tanpa dasar ilmu kemudian secara frontal menyerang keberadaan ekonomi syari’ah sebagai sistem ekonomi alternatif pengganti ekonomi konvensional. Menyamakan keberadaan keduanya atau bahkan menjelek-jelekkan system ekonomi syariah.

Lima karakteristik diataslah yang dirasakan masih muncul pada pribadi-pribadi yang bukan hanya dimiliki oleh kalangan non-muslim melainkan juga pada pribadi muslim bangsa Indonesia sekalipun. Secara nyata hal-hal mendasar inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah para penggiat ekonomi syari’ah untuk kemudian lebih jauh lagi melangkah mencapai kejayaan ekonomi syari’ah. Pendek kata, upaya membentuk paradigma positif masyarakat terhadap keberadaan ekonomi syari’ah mutlak secara dini untuk dilakukan guna mendukung perkembangan ekonomi syari’ah sebagai fitrah ekonomi dunia.

Wallahu a’lam bisshowab…