Wednesday, March 31, 2010

Ujian

Assalamu’alaikum wr.wb…

Satu, dua minggu belakangan ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita melihat adik, saudara, maupun sahabat-sahabat kita yang dengan semangatnya memfokuskan diri untuk menghadapi ujian, baik itu ujian sekolah, atau yang lebih heboh lagi adalah ujian akhir nasional. Luar biasa…!!!

Yang menghebohkan adalah bagaimana ketika satu, dua minggu ujian mulai menghampiri mereka, ramai-ramai mereka meningkatkan standar aktivitas belajar mereka secara drastic. Misal saja, ada yang lantas tiba-tiba memaksakan untuk meningkatkan volume belajar di luar sekolah yang tadinya mungkin tidak belajar sama sekali setelah pulang sekolah kemudian memaksakan belajar 3,4,5 jam dalam sehari dan seterusnya, bangun dini hari untuk belajar hingga menjelang subuh hingga kemudian berangkat sekolah lagi untuk belajar. Waktu yang ada seakan tidak akan luput dari belajar, belajar, dan belajar. Mantappp…!!! Bukan apa-apa, secara sadar kita akui, itupun tentu pernah kita alami selama kita masih sekolah. Begitupun bagi penulis…

Ibarat ‘sedia payung sebelum hujan’, itulah payung persiapan kita menghadapi ujian. Dan itu harus kita lakukan.

“Ledakan Petasan di Jalan”
Saat berjalan di setapak menuju rumah tiba-tiba seorang anak bolang melemparkan sebatang petasan korek (sejenis petasan yang meledak dalam jangka waktu tertentu) di depan jalan yang akan saya lewati kemudian. Lenggak-lenggok serta ejekan ringan si bolang seakan menjadi layar perjalanan saya ketika itu. Dengan niat meredam ledek ejek si bolang itu, dengan berbagai persiapan menghadapi ledakan sayapun melintasi sebatang dua batang petasan yang dia lemparkan bergiliran. (dasar bocah..!!)

Apa kiranya yang terjadi kemudian saat terjadi ledakan???
Sekalipun sudah dipersiapkan, ternyata perasaan atau respon berupa kaget tetap tidak terelakkan. BETUL???

Nah apalagi dengan ujian yang sahabat hadapi saat-saat ini.

Resah, gelisah, serta perasaan berat tentu sudah menjadi fitrah kita ketika menghadapi sebuah ujian, tidak sebatas pada ujian sekolah bahkan ujian hidup sekalipun. Namun demikian, mau tidak mau ujian ini tentu harus kita lalui, karena walau bagaimanapun ujian pada hakikatnya adalah pijakan kaki kita untuk kemudian dapat melangkahkan kaki kita pada jenjang tingkatan hidup berikutnya. Betul..3x..!!

Singkat kata pendek bicara, ujian secara normative memiliki tiga makna utama yang melekat dalam kehidupan kita. Yang pertama seperti yang terurai sebelumnya bahwasannya ujian merupakan pijakan kaki kita untuk dapat melangkah pada jenjang hidup berikutnya. Kalau saat ini baru pada posisi level 1 berarti ujian yg kita hadapi menjadi pijakan kaki kita untuk kemudian naik pada level 2, dan begitu seterusnya. Tidak sebatas hanya sebagai pijakan, tentu setiap ujian dikemas menarik dengan berbagai rintangan, kesulitan, atau juga kemudahan skalipun. Karena pada kenyataannya ujian tidak hanya identik dengan kesulitan saja, tapi juga dengan berbagai kemudahan yang seringkali menipu mata hati kita. Sering saya temui dalam ujian studi saya yang beberapa diantara soalnya saya anggap mudah namun justru menjebak. Mungkin sahabat juga sering menemui. Dengan kemasan seperti ini ujian menjadi salah satu jalan pengujian tolak ukur kemampuan kita selama ini.

Dari adanya kemasan berupa rintangan,kesulitan, atau malah kemudahan yang menyesatkan tersebut bisa disimpulkan bahwa ujian memiliki sifat yang selektif dan kompetitif, dalam konteks persaingan dari para peserta untuk menempati kedudukan yang di tuju berikutnya.

“Tidaklah seseorang dikatakan beriman sebelum mereka AKU uji.”

Begitulah firman ALLAH dalam Al-Quran-NYA. Tentunya firman ALLAH tersebut merangkum paparan sebelumnya di atas yang menegaskan bahwa memang sudah menjadi bagian dari rencana ALLAH SWT menempatkan berbagai ujian semata-mata untuk mengangkat derajat kita hingga menjadikan kita sebagai manusia pilihannya. Dan begitupun hakikatnya pada ujian-ujian sekolah pada umumnya, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengangkat derajat kita dari segi ilmu atau pendidikan tentunya.

Berikutnya, dengan kemasan manis di dalamnya ujian juga memiliki sifat yang kedua, yaitu evaluative. ALLAH memberikan kita berbagai ujian tidak lain untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi kehidupan yang telah dipelajari hamba-hamba-NYA atas berbagai pelajaran hidup dan fenomena-fenomena kebesaran ALLAH baik dalam konteks ayat kauniyah (alam) maupun ayat tanziliyah (hikmah berupa Qur’an). Tidaklah mungkin kemudian seorang guru memberikan soal ujian di luar batas kemampuan siswanya. Karena pada dasarnya ujian merupakan satu bentuk evaluasi atas penguasaan materi-materi yang tentu sudah dipelajari oleh penerima ujian tersebut sebelumnya. Sifat ujian seprti ini menjadi ukuran kelayakan bagi peserta ujian untuk menduduki tepat yang mereka tuju berikutnya.

Dan yang terakhir, ujian juga memiliki sifat introspektif. Hasil akhir dari ujian yang kita lalui tidaklah tepat kiranya jika hanya dijadikan sebatas stempel kelulusan ataupun kegagalan belaka, tetapi harus menjadi materi berharga yang menunjukkan di mana letak kekurangan atau kelemahan kita dan sebesar apa kekurangan dan kelemahan itu. Betul..3x..!!

“Genangan Air di Jalan”
Saat berkendara motor di tengah lebatnya hujan dengan kaca helm yang berbalut guyuran air hujan saya harus melewati jalan asing yang tergenang air. Rasa gelisah pun tak terelakkan menghinggapi perjalanan saya melewati jalan tersebut. Gelisah tersebut tentu bukan karena tidak ada jalan, akan tetapi gelisah karena saya tidak mampu melihat jalan ketika itu.

Apa maksud cerita singkat tersebut???

Kita dan apa yang terjadi pada diri kita seluruhnya tentu berada dalam genggaman ALLAH SWT. Semua berada dalam koridor catatan ALLAH. Semua ujian yang kita hadapi niscaya sudah ada jawabannya, dan jawaban itu berada dalam kuasanya. Tidaklah mungkin seorang guru memberikan soal ujian yang tidak memiliki jawaban kepada para siswanya. Hanya saja kemudian banyak diantara kita yang terlalu sibuk dengan persoalannya sehingga tidak mampu untuk melihat jawaban atas persoalan ujian itu sebenarnya.

Secara sadar, apapun yang kita capai dan kita miliki memang semata-mata adalah kasih sayang-Nya dan bukan murni akibat usaha kita. Namun, ini tidak bisa dijadikan alasan pembenaran bagi kita untuk bermalas-malasan serta bersikap fatalistik. Tidak dibenarkan seseorang menjadikan “takdir Tuhan” sebagai sebuah alasan untuk meninggalkan usaha karena sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Innallahu la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Lain kata, langit takkan menurunkan hujan emas. Bila kita menginginkan kelulusan dan kesuksesan dalam menjawab soal ujian, maka belajar disertai do’a adalah jalan yang efektif untuk mewujudkan impian itu.

Nah, tak lepas dari itu semua, kita patut meninjau kembali niat belajar dari ujian kita. Barangkali kita seringkali menafikan tujuan diadakannya ujian yang erat hubungannya dengan sifat-sifat ujian yang telah disebutkan di atas. Tanpa sadar ujian kita bertujuan agar dapat naik tingkat semata, tanpa memikirkan hakikat menuntut ilmu yang sebenarnya. Pada akhirnya, setelah melewati ujian kita kerap melupakan pelajaran-pelajaran yang sudah berlalu dan hanya bangga dengan predikat serta nilai yang kita dapatkan. Begitupun hakikatnya dengan ujian hidup kita. Dan mungkin kekhilafan-kekhilafan seperti inilah yang sering membuat kita sulit untuk melihat jawaban sebenarnya atas persoalan ujian yang kita hadapi tersebut.

Sebuah fenomena yang lumrah, akan tetapi bisa menjadi salah kaprah. Lumrah karena sangatlah manusiawi. Akan tetapi salah kaprah andai kita mementingkan predikat dan lupa dengan hakikat kewajiban mencari ilmu.

Kita mungkin masih sering mendengar bahwa niat yang harus ditanamkan seorang mukmin dalam mencari ilmu; mencari Ridha Ilahi, menghilangkan kebodohan dan meninggikan agama Islam. Namun kenyataannya bertolak belakang. Kita masih menyibukkan diri belajar demi mendapatkan predikat tertentu dan bilamana kita sudah mendapatkannya, selesai sudah sampai disitu.

Kalau boleh kita menukil, selayaknya kita berkaca pada munajat Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita dari Bashrah dalam konteks berbeda, “Ya Allah, kalau aku mencari ilmu hanya karena ingin nilai dan mendapatkan kelulusan, jauhkan nilai dan derajat itu dariku. Dan jika aku mencarinya karena takut tidak diluluskan dalam ujian, jangan luluskan aku dalam ujian. Namun bila aku mencarinya semata-mata hanya mencari ridha-Mu, maka jangan cabut cahaya-Mu ini dariku dan ikatkanlah kuat-kuat dalam dadaku”. Bisakah kita berprinsip demikian?

wallahu muwafiq…
Wassalamu’alaikum wr.wb…

No comments: