Tuesday, April 27, 2010

Bukan Tidak Ada..!!


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Sedikit kisah inspiratif yang insyaALLAH bermanfaat untuk sahabat.

Di sebuah kampung nelayan ada seorang pemuda yang dikenal sebagai ‘pemuda yang gagal’. Setiap kali ia berlayar hendak menangkap ikan pemuda ini selalu saja kembali dengan perahu kosongnya tanpa seekorpun ikan yang ia bawa. Sekalipun ada, terhitung sangat sedikit bila dibandingkan tangkapan nelayan muda lainnya.

Suatu hari, dengan tekad mematahkan anggapan jelek nelayan lain tentang dirinya, ia berlayar jauh ke suatu tempat yang tidak satupun nelayan lain pernah mengayuhkan perahunya ke sana untuk menangkap ikan. 1, 2, 3 hari berlalu, tak satu orang pun dari penduduk kampong nelayan yang melihat si pemuda ini kembali menepi ke kampungnya itu. Hingga satu bulan pun berlalu, di hari ke empat puluh kepergiannya akhirnya beberapa nelayan dari penduduk kampong pun bergegas pergi melaut untuk mencari atau sitidaknya memastikan kondisi si pemuda gagal itu.

Singkat ketik pendek cerita, akhirnya mereka menemukan si pemuda gagal tersebut yang ternyata berada dalam kondisi yang masih hidup namun terlihat kelalahan sekaligus bingung dengan kondisi dirinya sendiri. Yang mencengangkan bagi para nelayan yang mencarinya ketika itu, si pemuda gagal ini ternyata berhasil mendapatkan ikan yang begitu besar melebihi besarnya perahu yang mereka tumpangi. Si nelayan pun bertanya,

Nelayan : “hai pemuda, kamu telah mendapatkan ikan yang begitu besar ini, lantas apa yang kamu lakukan disini?? Penduduk kampong sudah terlalu lama menunggu hasil tangkapanmu…”

Si Gagal : “di hari pertama aku berlayar pun aku sudah mendapatkan ikan besar ini. tapi aku bingung bagaimana aku harus membawa ikan ini
ke tepian…”
……………….

Apa ibroh yang bisa sahabat dapatkan dari sedikit kisah nelayan tersebut di atas???

Sedikit makna kisah yang bisa kita ambil diantaranya, bahwa sebenarnya apa dan siapapun makhluk-NYA, ALLAH SWT telah mencukupi rizkinya di dunia, bahkan nikmat-NYA melimpah melebihi apa yang kita butuhkan. Hanya saja banyak diantara kita yang belum mampu untuk kemudian menemukan atau menjemput pintu rizki itu hingga sampai ke pangkuan kita.

• ketika seorang bermata minus memakai kaca mata milik org lain yang berbeda ukuran kemampuannya boleh jadi ia tidak akan mampu melihat tulisan yang ia baca. Ketidakmampuannya melihat tulisan tersebut bukan karena tidak ada huruf-huruf dalam bacaan yang ia baca, melainkan karena ia tidak mampu melihatnya karena keterbatasan yang ada.

Banyak diantara kita yang menyandarkan rizkinya hanya pada satu pintu saja, padahal hakikatnya banyak sekali pintu-pintu rizki yang ALLAH bukakan untuk kita untuk kemudian kita masuk ke dalamnya. Mungkin memang dengan satu pintu itu ALLAH sudah mencukupi kebutuhan kita (tergantung pada bagaimana kita mensyukurinya), namun tidak bisa kita pungkiri bahwasannya manusia tidak pernah lepas dari yang namanya ‘keinginan’.

• “lapar cukup dengan sepiring nasi, tapi keinginan takkan cukup dengan segunung makanan pun”

Selain itu tidak sedikit pula diantara kita yang belum sampai menemukan siapa dirinya, seperti apa jati dirinya, seberapa besar potensinya, dan di mana letak potensi itu berada sudah lantas mengatakan ‘saya tidak bisa melakukannya’.

• Ingat “sebagian besar orang gagal terjebak pada kata ‘hampir berhasil’”

Kalau dalam firman-NYA ALLAH SWT mengatakan ‘tidaklah kutimpakan ujian kepada manusia melainkan sesuai dengan kesanggupannya’, maka demikian pula dengan bagaimana cara ALLAH melimpahkan rizki kepada makhluk-NYA. Tidaklah mungkin mendapatkan untung dari berdagang ketika kita tidak punya kemampuan berdagang yang baik atau bahkan tidak mau berdagang.

• “memancing di selokan hanya akan mungkin mendapatkan ikan gapi bukan ikan paus..!!”

Potensi manusia secara fisik memang jelas berbeda-beda dan itu menjadi ketentuan ALLAH semata, tetapi hakikat potensi sebenarnya tidak lantas datang begitu saja tetapi harus dibangun, ditingkatkan, dan dipelihara ketika memang sudah sampai pada porsinya.

ALLAH memberikan potensi yang berbeda-beda kepada manusia, akan tetapi bukan pada seberapa besar potensi yang ada pada kita yang menjadi ukuran seberapa besar rizki yang ALLAH limpahkan untuk kita yang pada akhirnya juga menjadi penilaian ALLAH kualitas hidup manusia, melainkan pada seberapa mampu diri kita untuk kemudian memaksimalkan sepenuhnya potensi yang telah ALLAH berikan kepada kita.

Tidak sedikit orang yang diberikan kecerdasan lebih untuk untuk meraih gelar sarjana, rizkinya tidak lebih dari seorang pedagang tamatan SMA misalnya. Banyak orang yang diberikan mata yang sempurna rizkinya tidak lebih dari seorang yang buta.
Lepas dari takdir yang menggariskannya, ini cara ALLAH mengangkat manusia pilihan-NYA.

Wallahu ‘alam bisshowwab…

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Monday, April 12, 2010

Menyalakan Api Taubat


Dzikrullah...

Manusia adalah makhluk ruhani dengan selubung pakaian tulang belulang dan daging jasmaniah. Tulang belulang akan lebur kembali menjadi tanah, daging pun akan cair menjadi air, namun tidak demikian dengan ruh dia akan terus berjalan menuju keabadian di sisi Tuhan.

Sebagai cahaya murni ruh tidak mungkin bersentuhan langsung dengan dunia material. Dia memerlukan kendaraan, yaitu hati. Hatilah tempat pertarungan hidup dan mati antara hasrat badani melawan kerinduan illahi. Karena itu hati dinamakan ‘qolbu’ yang artinya terbolak balik.

Bila tarikan duniawi mendominasi maka ruh akan terseret masuk ke dalam kegelapan debu tanah. Bila kerinduan illahiah menguasai maka ruh akan melesat menembus tirai-tirai cahaya alam malaikat.

Hanya ada satu cara memenangkan pertempuran ini, yaitu dengan membanjiri hati dengan menyebut nama-nama Tuhan.

“ala bi dzikrillah tathma’innul qulub”

Ketahuilah hanya dengan mengingat ALLAH saja hati akan menjadi tenteram.

Ingatlah hanya dengan mengingat ALLAH sajalah hati menjadi tenteram.

Membangun mesjid di atas bumi akan mengundang kehadiran hamba-hamba ALLAH, sedangkan membangun masjid di dalam hati akan mengundang kehadiran ALLAH SWT.

Masjid di bumi dibuat dari batu dan tanah, masjid di dalam hati dibangun dari adonan cinta dan dzikrullah.

Wssalamu’alaikum Wr.Wb.

Friday, April 9, 2010

Membangun Masjid di Dalam Hati

Manusia adalah makhluk ruhani dengan selubung pakaian tulang belulang dan daging jasmaniah. Tulang belulang akan lebur kembali menjadi tanah, daging pun akan cair menjadi air, namun tidak demikian dengan ruh dia akan terus berjalan menuju keabadian di sisi Tuhan.

Sebagai cahaya murni ruh tidak mungkin bersentuhan langsung dengan dunia material. Dia memerlukan kendaraan, yaitu hati. Hatilah tempat pertarungan hidup dan mati antara hasrat badani melawan kerinduan illahi. Karena itu hati dinamakan ‘qolbu’ yang artinya terbolak balik.

Bila tarikan duniawi mendominasi maka ruh akan terseret masuk ke dalam kegelapan debu tanah. Bila kerinduan illahiah menguasai maka ruh akan melesat menembus tirai-tirai cahaya alam malaikat.

Hanya ada satu cara memenangkan pertempuran ini, yaitu dengan membanjiri hati dengan menyebut nama-nama Tuhan.

“ala bi dzikrillah tathma’innul qulub”

Ketahuilah hanya dengan mengingat ALLAH saja hati akan menjadi tenteram.

Ingatlah hanya dengan mengingat ALLAH sajalah hati menjadi tenteram.

Membangun mesjid di atas bumi akan mengundang kehadiran hamba-hamba ALLAH, sedangkan membangun masjid di dalam hati akan mengundang kehadiran ALLAH SWT.

Masjid di bumi dibuat dari batu dan tanah, masjid di dalam hati dibangun dari adonan cinta dan dzikrullah.

Wssalamu’alaikum Wr.Wb.

Takut Disebut Ria..???


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Tentu kita sadari penyakit ria memang menjadi penyakit yang sangat berbahaya bagi perjalanan ibadah kita. Penyakit hati ini dapat dengan mudah mambakar habis pahala ibadah yang kita lakukan sekalipun sudah bersusah payah kita kerjakan. Ibarat debu di atas batu yang diterpa hujan badai hingga debu tersebut terhempas habis tak bersisa maka begitulah akibat ibadah yang terselubung ria.

Memang tidaklah mudah untuk mengidentifikasi penyakit ria. Namun setidaknya menurut Imam Al Ghozali penyakit ria sering timbul karena sebab tiga hal, yaitu:

1. Mencari nikmatnya pujian seseorang.
Contoh:
A. “Ah, sebelum adzan ashar nanti ana harus meninggalkan perkuliahan dulu untuk pergi ke masjid lantas adzan. Mudah-mudahan si ukhti ma temen-temen lain liat ana dan denger ana adzan nanti.”
B. “Ana tolak aja lah panggilan kerja dari perusahaan Konvensional ini. Biar temen-temen tau bahwa ana punya idealisme yang kuat.”


2. Menghindar ataupun takut dicaci.
Contoh:
A. “Duh malu nih ana, temen-temen pada sholat tepat waktu padahal mereka orang yang biasa-biasa aja. Masa ana yang penggiat dakwah telat shalatnya. Apa kata dunia???”
B. “Duh apa kata temen-temen nanti, masa penggiat Dakwah Eksyar ATMnya masih ATM konvensional. Harus cepet-cepet ganti nih..”

3. Berharap pemberian manusia.
Contoh:
A. “Wah, pak dosen rupanya rajin sholat duha juga toh. Klo gitu ana shalat duha aja persis di sampingnya ah. Kali aja dia liat ana lantas berbaik hati terhadap urusan skripsi ana.”
B. “Pokoknya ana harus dapet juara satu di lomba artikel Eksyar nanti biar pak Dosen tau lantas setuju sama proposal skripsi yang ana ajukan tentang Eksyar ini.”
Namun demikian bukan berarti perasaan takut untuk berbuat ria ini lantas membuat kita justru enggan melaksanakan ibadah karena anggapan “toh nanti pahala ibadah ana habis tak bersisa..!!”. Bukan seperti itu menyikapinya.

Satu hal lagi tambahan tentang bagaimana mengidentifikasi penyakit ria ini yang mungkin menurut penulis sering tidak kita sadari muncul dalam benak kita yaitu justru pada perasaan ‘takut disebut ria.’ Karena ternyata perasaan takut di sebut ria lagi-lagi mengkotakkan kita pada orientasi manusia, mengkotakkan kita bukan lagi pada ‘apa kata ALLAH’ melainkan ‘apa kata mereka.’

Contoh: “Waduh, ana takut dianggap ria nih kalau shalat lebih awal waktu dari temen-temen walaupun mungkin ada sebagian yang menganggap ana sebagai taat.”
Dan banyak lagi contohnya.

Untuk sedikit menjawabnya, kiranya ada sebuah kisah yang mungkin dapat mengingatkan kita tentang hal ini. Simaklah…

Kisah tentang Lukmanul Hakim saat mengajak anaknya ke pasar.

Mereka mempunyai seekor keledai yang sudah tua dan kurus badannya.

Saat hendak menuju ke pasar;

Lukmanul Hakim: “Nak ini keledai kita cuma satu, kurus, dan sudah tua lagi. Berarti sudah kalau begitu kamu saja yang naik ini keledai, sementara bapak menuntun saja.

Si Anak pun menaikki keledainya, kemudian Mereka berjalan melewati sekumpulan orang dan mulai berkomentar;

Salah satu dari kumpulan orang: “Heuh, tuh anak ngelunjak bener sama orang tua. Nggak sopan, masa dia enak-enak nangkring di atas keledai sementra bapaknya nuntun keledai.

Komentar tersebut terdengar oleh Lukmanul Hakim dan anaknya. Sehingga Lukmanul Hakim pun berkata pada anaknya.

Lukmanul Hakim: “Nak kita salah, tukar-tukar. Kamu turun bapak yang naik keledai.”

Naiklah bapaknya ke atas keledai mnggantikan anaknya, dituntun itu keledai sama anaknya kemudian melewati lagi sekelompok orang.

Salah satu dari kumpulan orang: “Heuh, bapak sudah tua, rambut putih, nggak bijaksana masa dia enak-enak nangkring di atas keledai, anak kecil disuruh nuntun.

Lukmanul Hakim: “Wah kita salah lagi nak. Sudah kalau begitu bapak turun saja. Kita tuntun saja keledai ini sama-sama.”

Kemudian mereka lewat lagi di sekumpulan orang:

Salah satu dari kumpulan orang: “Heuh liat tuh orang, tidak efektif, tidak efisien, harusnya keledai kan dimanfaatkan. Ini liat keledai dianggurkan begitu.”

Lukmanul Hakim: “Nak kita salah lagi. Kamu naik salah, bapak naik salah. Tidak ditunggangi salah. Sudah kalau begitu kita naikki berdua saja keledai ini.”

Lalu lewatlah mereka di sekumpulan orang lagi yang rupanya pecinta binatang.

Salah satu dari kumpulan orang: “Liat tuh orang, teganya, hak azasi manusia diperjuangkan, hak azasi binatang diinjak-injak. Keledai tua, kurus lagi eh seenaknya dinaikki berdua.

Lukmanul Hakim: “Nak kita salah lagi. Turun..turun..turun. Pikir dulu sebentar. Kamu naik salah, bapak naik salah, tidak dinaikki salah, dinaikki berdua salah. Kira-kira yang mesti kita lakukan apa nih.”

Si Anak: “Sudahlah pak kita gotong saja keledainya sama-sama. Biar keledai naik kita sekarang.”

Dan ternyata benar mereka menggotong keledai tersebut dan kemudian melewati sekumpulan orang lagi yang rupanya adalah seorang filosof.

Salah seorang filosof: “Bener-bener, zaman memang sudah edan. Dulu mah orang naik keledai sekarang keledai naik orang.

Akhirnya Lukmanul Hakim pun memanggil anaknya dan menyimpulkan.

Lukmanul Hakim: “Sini-sini nak. Kamu liat ternyata kita salah semua. Nak, kalau kamu berharap kamu bahagia karena apa kata orang. Orang punya pikiran beda-beda, punya pendapat beda-beda, tapi kalau engkau mencukupkan pandangan ALLAH saja maka engkau akan merdeka.”

Jadi, singkat kata pendek bicara, cukupkanlah setiap ibadah yang kita kerjakan hanya pada ‘apa kata ALLAH’ saja, sebab kalau ‘apa kata ALAH’ saja sudah baik nicaya baik pulalah ‘apa kata mereka’, namun bila ‘apa kata ALLAH’ buruk maka tentu buruk pulalah ‘apa kata mereka.’ Dan itulah hakikat ikhlas sebagai pengobat penyakit ria dalam diri kita.

Memang tidaklah mudah…

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Ke Arah Mana Kita Sedang Menjadi


Assalamu’alaikum Wr. Wb

Sebutir kacang tanah yang ditanam di tanah subur selamanya akan tumbuh menjadi pohon kacang tanah dan tidak akan pernah menjadi pohon mangga. Demikian pula dengan seekor kucing hanya akan melahirkan anak kucing dan ia pun akan mati sebagai seekor kucing. Namun tidak demikian halnya dengan manusia, manusia lahir sebagai manusia, tetapi belum tentu hidup sebagai manusia, mati sebagai manusia, dan dibangkitkan di hari kiamat nanti sebagai manusia. Manusia tumbuh menjadi sesuatu sesuai dengan keadaan hati dan amal-amalnya. Ia dapat saja menjadi mulia seperti malaikat namun bisa juga berubah menjadi setan. Sulit untuk mengetahui secara pasti ke arah mana kita sedang menjadi.

Mungkin ada satu hal yang dapat membantu. Ketika kita shalat perhatikanlah apa saja yang paling banyak kita ingat. Bila kita terserap dalam ingatan kepada ALLAH maka mudah-mudahan itu pertanda kita sedang tumbuh ke arah yang benar, namun bila otak dan hati kita dipenuhi dengan sampah-sampah dunia maka itu pertanda buruk. Itu artinya kita sedang tumbuh menjadi setan…

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jangankan Disebut Kaya Miskin pun Masih Terlalu Mulia


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dewasa ini fenomena ketamakan manusia kian menganga. Kemiskinan dimana-mana sementara korupsi makin merajalela. Tidak hanya mencukupkan dirinya, tetapi sudah pada hawa nafsunya. Tidak lagi sebatas cinta dunia, tetapi sudah menjadi tawanan dunia.

Apa yang salah dengan miskin dan kaya??? Bukankah itu fenomena yang biasa-biasa saja???

Bukan miskin atau kaya yang menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah bagaimana kemudian kita mengartikan makna kaya di atas miskin sebenarnya. Bukan tidak boleh kita menjadi kaya, bahkan islam pun menganjurkannya, yang tidak boleh adalah menjadi kaya dengan memiskinkan sesamanya.

Mereka yang disebut bahagia bukan berada di antara orang-orang yang merana.

Mereka yang disebut mulia bukan berada di antara orang-orang yang hina.

Mereka yang disebut kaya bukan berada di antara orang-orang yang tak berpunya.

Mereka yang disebut bahagia adalah mereka yang membahagiakan orang-orang di sekelilingnya.

Mereka yang disebut mulia adalah mereka yang memuliakan orang-orang di sekitarnya.

Mereka yang disebut kaya adalah mereka yang memperkaya orang-orang di sampingnya.

Kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa. Kaya hakikatnya lebih pada rasa di hati bukan pada banyaknya harta benda.

Orang yang memiliki rumah, kendaraan, uang dan perusahaan yang banyak bila ia merasa semua itu kurang maka sebenarnya ia adalah orang miskin sejati-jatinya. Bila rasa kekurangan itu memaksa ia untuk korupsi, merampas hak orang lain, dan menipu orang lain, maka ia jangankan disebut kaya sebutan miskin pun masih terlalu mulia untuk dirinya.

Sebab jika orang miskin terpaksa mencuri milik orang lain karena perihnya rasa lapar sementara orang itu mencuri hak orang lain karena ketamakan. Perut bisa kenyang dengan satu piring nasi tetapi tamak tidak akan pernah kenyang meskipun dengan tanah sepenuh bumi.

Malang benar orang itu ia berada jauh di bawah batas kemiskinan, bahkan nama pun ia tidak punya.

Belajarlah untuk bersyukur karena syukur membuat kita menyadari bahwa dalam satu detik ada milyaran nikmat yang sedang terlimpah kepada kita, yang berarti detik itu juga hati kita dipenuhi perasaan kaya dan kaya.

Renungkan dan sampaikanlah...

Wassalamu’laikum Wr.Wb.

Belajar Dari Lalat


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bagaimanakah mungkin hati akan cemerlang bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati???

Tidaklah sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi oleh gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat. Lihatlah di bidang apa saja hati ini menjadi resah.

Bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rezeki, berani tidak jujur demi sepeser dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi oleh gemerlap duniawi, tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Akan tetapi bila keresahan kita pada sholat yang belum khusyuk, bekal akhirat yang belum banyak, akhlak yang masih buruk itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.

Memang mustahil untuk tidak terlibat dalam urusan-urusan duniawi karena kita mencari penghidupan jasmani di sini dan mampersiapkan bekal akhirat di sini pula. Namun disaat yang sama bagi ruh kita gemerlap dunia material ini adalah racun yang mematikan.

Di sinilah kita harus belajar dari lalat.

Lalat mencari penghidupan di tempat yang paling menjijikkan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, atau nasi yang sudah menjadi basi, tetapi kita tidak pernah mendengar sekalipun bahwa ada lalat yang terserang tyfus atau disentri. Mengapa?

Menurut ilmuwan lalat mempunyai kebiasaan yang unik yaitu selalu membersihkan diri. Setiap hinggap di suatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya. Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih lalu ia membersihkan pula kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu, tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya, mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya, setelah itu barulah dengan pompa penyerap ia masukkan ke kerongkongannya . Subhanallah…

Inilah seni kehidupan spiritual. Kita harus mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang system kekebalan spiritual. Agama telah memberikan kita formula anti virus ini. Formulanya adalah makan-makanan yang halal, menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktivitas demi menegakkan sholat, peduli terhadap kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat, bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakkal dalam ketidakpastian, dan ketauhidan yang kokoh yaitu segala sesuatu ada dalam genggaman tangan ALLAH SWT.

Ada satu kalimat ringkas yang dapat mencakup hal ini yaitu tubuh bergaul dengan makhluk dan hati bergaul dengan kholiq.

Memang tidak gampang…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tuesday, April 6, 2010

Ana Uhibbuki Fillah


Tulisan ini mudah-mudahan bisa menjadi nampah curah atas gelisah ana selama ini. Istighfar senantiasa terucap manakala tulisan ini justru membawa luka atau bahkan murka ALLAH SWT.

A’udzubillahiminasyaithonirraojiiim…

Bismillah… Semoga ALLAH meridhoi.

Entah apa yang ana rasa selama ini. Antara anugerah atau justru tipu daya setan untuk memalingkan hati ana dari mengingat ALLAH SWT.

Mengenal ia mungkin memang menjadi satu anugerah untuk ana. Tak sedikitpun ana pungkiri bahwa ana menaruh cukup perhatian padanya. Akhlaknya yang baik, serta parasnya yang cantik sudah cukup rasanya untuk membuat ana jatuh hati padanya. Namun tak sedikit pula ana sadari bahwa mengenal ia menggoyahkan hati ana hingga secara tidak sadar banyak menghilangkan waktu ana untuk kembali mengingat-NYA dan menaruh cinta hanya kepada-NYA.

Hingga akhirnya kekekalan cinta padanya pun mulai goyah atas pilihan cinta yang menghadapnya, ana sadar bukan ini ‘cinta’ yang sebenarnya. Cinta karena ALLAH memang cinta yang mulia, namun sampai diri ini belum mampu menjadi insane yang mulia tak layak rasanya diri ini menjemput anugerah cinta karena-NYA. Istighfar senantiasa terucap mengingat kembali khilaf yang selama ini ada. Berharap selalu semoga ALLAH membimbing hati ana.

Tulisan ini mungkin menjadi awal putusnya pengharapan besar ana atas cintanya, sekaligus menjadi awal pengharapan besar cinta ana hanya pada-NYA dan cinta ana hanya karena-NYA.

Biarlah ia memilih dan menjemput cintanya, seraya meyakinkan diri bahwa mereka memang lebih baik dari ana. Semoga ALLAH memberikan cinta terbaik untuknya melebihi cinta ana padanya selama masa telah berada.

Syukurku senantiasa terucap atas anugerah cintaku padanya walau mungkin hanya di tepian hatinya saja. Jazakumullah untuknya memberi tempat dan masa untuk ana merasakan anugerah cinta walau hanya sepercik saja.

Semoga dirinya senantiasa berada dalam naungan cinta-NYA.

Walau tak sanggup menggapainya,
“ANA UHIBBUKI FILLAH…!!!”

Sunday, April 4, 2010

Berdamai dengan Kenyataan

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Perjalanan hidup kita memperlihatkan ada hal-hal yag bisa kita ubah dan ada pula hal-hal yang meskipun kita telah berusaha tetapi tetap saja tidak bisa kita ubah. Orang yang sama sekali tidak bisa berhitung misalnya dapat mahir dan terampil mengolah angka dengan belajar matematika, orang yang sakit dapat sembuh dengan berobat, orang yang miskin dan menjadi beban bagi orang lain dapat berubah menjadi orang yang mandiri melaui kerja keras. Tetapi dapatkah kita menghidupkan kembali orang mati yang sudah menjadi tanah, mengubah nasi yang sudah menjadi bubur untuk menjadi nasi kembali, mengubah orang yang tua renta menjadi bayi kembali???

Sebenarnya kebahagiaan hidup lahir bukan pada kemampuan untuk membuat hal-hal yang tidak pasti menjadi pasti, tetapi kebahagiaan itu lahir dari benarnya cara pandang, sikap, dan perilaku dalam suasana yang serba tidak pasti.

Kegagalan atau keberhasilan adalah hal lumrah dalam hidup ini, tetapi berlebih-lebihan menyesali kegagalan dan larut dalam kesedihan justru merupakan satu bentuk kegagalan yang lebih besar lagi yaitu gagal mengendalikan diri.

Berhasil ataupun gagal dalam ujian adalah satu pilihan yang pasti, tetapi meratapi kegagalan dari satu hal yang sangat kita idam-idamkan hingga membuat kita enggan untuk melanjutkan perjuangan kembali justru itulah sebesar-besarnya kegagalan yang paling mengerikan dalam hidup ini, yaitu kegagalan membangun harapan.

Takdir adalah keniscayaan abadi, tetapi bahagia atau sengsara akibat suatu takdir adalah pilihan manusia itu sendiri. Manusialah yang memilih mau hidup dengan bahagia berdamai bersama takdir atau hidup sengsara dengan memusuhi takdir.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Luar biasa keadaan seorang mukmin, semua hal selalu baik untuk dirinya dan ini hanya terjadi pada seorang mukmin. Apabila dalam kelapangan niscaya ia bersyukur, hal itu menjadi kebaikan bagi dirinya, namun bila dalam kesempitan ia bersabar, hal itu pun menjadi kebaikan bagi dirinya”

Tataplah segala hal dengan kacamata iman, cepat atau lambat kita akan mengerti bahwa rangkaian peristiwa adalah jala yang ditebarkan ALLAH untuk menjaring manusia memasuki hadirat suci-NYA. Meleburlah dalam takdir ALLAH niscaya engkau akan sampai kepada-NYA…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.