Sunday, July 5, 2009

-babeh-


Bismillahirrohmannirrahim…

By: Ady Cahyadi, SE
>>>putra betawi
nak ke 4 dari 7 bsodara kel. H. Sapri S…
(abank gw)

Baba, begitu kami semua memanggil sosok ayah kami. Putra betawi asli yang lahir di kampoeng Kedaung, Sarua Indah, Ciputat, Tangerang, 11 mei 1950. Anak pertama dari pernikahan Samin bin Bende dan hj Caneng binti Djamat.

Ketidaksepahaman antara kedua orangtuanya menyebabkan ia diasuh dan dibesarkan oleh sang ibu di Sarua Indah (rt 01/04 sekarang ini). Ketika sang ibu menikah lagi, baba tetap ikut serta dengan sang ibu, dan mempunyai bapak tiri, H. Muhammad, konon katanya beliau berasal dari Banten, daerah asli asalnya tak pernah diketahui hingga akhir hayatnya. Didikan dari sang bapak tiri inilah yang menjadikannya seperti sekarang, kalem, kuat, agamis dan bersahaja. Ini karena sang bapak adalah seorang guru agama, tabib yang ahli pengobatan dan guru yang pandai ilmu kanuragan. Tak sedikit para pemuda yang belajar langsung ilmu kanuragan kepada sang bapak.

Tumbuh dan kembang bersama sang bapak ternyata membuahkan hasil, baba ternyata terkenal sebagai anak yang cerdas sewaktu sekolah rakyat dulu, namun karena ketidak mampuan materi ia terpaksa melupakan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memilih bekerja, dari tukang bangunan, penjaja keliling hingga menjadi penjahit. Disela kesibukannya itu tak lupa ia selalu ikut mengaji saat sang bapak yang terkenal sebagai ustad dan guru ini mengajar disegala pelosok desa sekitar Ciputat.

Dan sekarang… baba… rasanya tidak ada kata yang menghujam dalam hati ini ketika mendengar kata itu selain perasaan bangga terhadap sosok ayah yang begitu mulia ini. Syukur ku senantiasa panjatkan kehadirat-Mu yang telah mengamanatkan hamba ke dunia melalui ‘baba’. Semoga Allah swt. senantiasa menjaga dan melindungimu.

Rabbighfirli wali waalidaiya warhamhuma kamaa rabbayani shaghiiraaa… amiiin yaa rabbal aalamiiin…

Friday, July 3, 2009

-akhirnya-

-akhirnya-

Akhirnya UAS gw berez juga.. semua ikhtiar dah gw lakukan sebisa gw, tinggal penyempurnaan langkah gw sebagai ibadah yaitu do’a dan tawakal berharap hasil yang terbaik yang kiranya ALLAH berikan atas semua tahapan-tahapan yang telah gw lewati… terbaik bwt ALLAH, bwt gw, dan bwt sekeliling gw..

Hakikat ujian memang bukan pada hasil akhir yang ALLAH berikan, hakikat ujian terletak pada proses yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.. hasil hanya sebuah hadiah kecil yang ALLAH berikan atas jerih payah yang kita lakukan.. lebih dari pada itu semua adalah peluh dari jerih payah kita di setiap langkah tuk menghadapi UAS..

“hasil akhir hanyalah stempel bukti bahwa anda telah melewati ujian.. terpenting dari ujian adalah bagimana proses anda dalam menyikapi ujian.. karena dalam tiap proses itulah makna nilai yang sebenarnya..”

Raqib dan Atid tidak bertugas merekap tiap-tiap nilai mutu kita dalam ujian.. (biar malaikat ga akan pernah capek juga ngapain nyatet-nyatet nilai bgituan).. rekapan milik pencatat amal kita berisi apa saja amalan-amalan yang kita lakukan dalam rangka menyapa ujian dan bagaimana sikap kita miniti tiap-tiap ujian tersebut..

A, B, C di papan umum departemen hanya sekedar penilaian manusia (dosen) belaka.. A, B, C sesungguhnya hanyalah milik ALLAH dan baru bisa kita ketahui di papan pengumuman di akhirat kelak nanti tempat kita akan bertemu..

So, hasil akhir bukanlah segalanya, proseslah yang menjadi intinya.. bukan A, B, C yang ALLAH minta melainkan ibadah di tiap langkah menuju taqwa yang menyertai proses belajar kita..

Dan ingatlah, UAS hanya lembaran-lembaran kecil yang menyusun buku catatan kehidupan kita.. masih banyak lembaran-lembaran kosong dalam buku raport kita yang menunggu catatan-catatan emas amalan terbaik kita…

Tetap semangat, luruskan niat, pasti kau dapat!!!

-salam hangat tuk sahabat-