Friday, December 25, 2009

Sejarah Penerapan Hukum Islam


Dalam sejarahnya upaya penerapan hukum syari’ah atau hukum islam di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan semenjak masa perjuangan kemerdekaan bangsa. Dimana kita ketahui sendiri memang motor perjuangan kemerdekaan kita saat itu banyak didominasi oleh pejuang-pejuang muslim yang memegang teguh prinsip-prinsip hukum syari’ah. Perjuangan tersebut memang tidak secara frontal dilakukan, tapi lebih banyak kepada upaya-upaya politis yang berbasis pada kelompok dan budaya. Sayangnya kemudian upaya-upaya tersebut terbentur dengan kekuasaan politik pemerintah Hindia-Belanda pada masa penjajahannya secara sistematis terus mengikis pemberlakuan hukum syari’ah di tanah-tanah jajahannya. Hingga pada gilirannya kelembagaan-kelembagaan baik yang telah ada maupun yang kemudian dibentuk baik itu lembaga peradilan, perserikatan, dan lainnya pada masa itu mulai meninggalkan nilai-nilai hukum syari’ah dan mulai terbiasa menerapkan aturan hukum yang dibentuk pemerintah Hindia-Belanda yang saat itu disebut Burgerlijk Wetbook yang tentunya jauh dari nilai-nilai syari’ah. Sehingga jelas saja kagiatan-kegiatan atau perkara-perkara peradilan yang bersinggungan dengan syari’ah saat itu belum memiliki pedoman yang sesuai dengan nurani masyarakat muslim kebanyakan.

Disadari atau tidak kondisi tersebut diatas tetap bergulir hingga kurun waktu dewasa ini. Dalam prakteknya di lapangan, terlebih pada lembaga peradilan kita, sebelum adanya amandemen UU No 7 tahun 1989, penegakkan hukum yang berkaitan dengan urusan perniagaan ataupun kontrak bisnis di lembaga-lembaga keungan syari’ah kita masih mengacu pada ketentuan KUH Perdata yang ternyata merupakan hasil terjemahan dari Burgerlijk Wetbook peninggalan jajahan Hindia-Belanda yang keberlakuannya sudah dikorkordansi sejak tahun 1854.. Sehingga konsep perikatan dalam hukum-hukum syari’ah tidak lagi berfungsi dalam praktek legal-formal hukum di masyarakat.

Menyadari akan hal tersebut, tentunya kita sebagai muslim patut mempertanyakan kembali sejauh mana penerapan hukum syari’ah dalam setiap aktivitas kehidupan kita, terlebih pada hal-hal yang terkait dengan aktivitas-aktivitas yang bernafaskan ekonomi syari’ah yang telah jelas disebutkan bahwa regulasi-regulasi formil yang menaungi hukumnya masih mengakar pada penerapan KUH Perdata yang belum dapat dianggap syari’ah karena masih bersumber pada Burgerlijk Wetbook hasil peninggalan penjajahan Hindia-Belanda.

Sejalan dengan perkembangan pesat sistem ekonomi syari’ah dewasa ini berbagai upaya-upaya sistematis dilakukan oleh pejuang-pejuang ekonomi syari’ah pada level atas untuk kemudian memuluskan penerapan hukum ekonomi syari’ah secara formal pada tatanan payung hukum yang lebih diakui pada tingkat nasional. Tentunya upaya-upaya ini tidak lepas dari aspek politik hukum di Indonesia. Proses legislasi hukum ekonomi syari’ah pun sudah sejak lama dilakukan dan relatif belum menemui hambatan yang secara signifikan mempengaruhi proses perjalanannya. Hanya saja kemudian upaya-upaya ini baru sampai pada tahap perumusan Undang Undang yang mengatur aspek-aspek ekonomi syari’ah secara terpisah, belum kepada pembentukkan instrument hukum yang lebih nyata layaknya KUH Pidana maupun KUH Perdata yang lebih kuat.

wallahu a'lam bisshowwab..

Pluralitas Hukum

Secara gamblang, hukum dapat didefinisikan sebagai suatu instrument yang mengatur tata kehidupan bermasyarakat hingga mencapai kondisi yang aman, nyaman, tenteram, dan damai yang menuntun masyarakat pada level kehidupan yang harmonis. Oleh karenanya muatan hukum yang bersumber dari masyarakat tersebut juga kemudian harus mampu merefleksikan nilai-nilai luhur yang diyakini masyarakat, serta mampu merepresentasikan aspirasi masyarakatnya yang bersifat dinamis yang tidak hanya bersifat kekinian, tetapi juga harus mampu meng-cover kebutuhan masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang baik dalam aspek social, ekonomi, dan politik di masa yang alan datang.

Keanekaragaman bangsa yang mencakup ragam agama, sosial, dan budaya di Indonesia yang diyakini sebagai kekayaan serta kekuatan bangsa ini memang patut untuk kita syukuri bersama, namun bukan menjadi alas an untuk kemudian membatasi penerapan hukum-hukum Islam masyarakat di dalamnya. Oleh karena itu tidak perlu dipersoalkan lagi jika terhadap subyek hukum islam pada bidang muamalah diberlakukan penerapan hukum ekonomi syari’ah pada tataran nasional.

Tidakkah pluralitas bangsa ini harus diterima secara nyata sebagai alas an yang menghendaki timbulnya pluralitas hukum yang ada di dalamnya?

Prinsip unifikasi hukum memang menjadi sebuah pedoman yang harus dipegang lembaga peradilan kita, namun sejauh unifikasi hokum tersebut tidak mampu merepresentasikan aspirasi masyarakat di dalamnya, maka pluralitas hukum haruslah diterima secara nyata keberadaannya sebagai bagian dari instrumen hukum pada tatanan hukum nasional kita.

Perkembangan penerapan sistem ekonomi syariah yang dewasa ini terus menunjukkan peningkatan pesatnya cukup menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk dapat mengimplementasikan hukum ekonomi syariah sebagai bagian dari instrumen hukum nasional, hingga kemudian tidak lagi muncul permasalahan-permasalahan pada lembaga peradilan agama kita terkait pada perkara-perkara ekonomi syari’ah yang disebabkan belum adanya regulasi formil yang mampu mengakomodir putusan-putusan hakim di dalamnya.

Wednesday, December 23, 2009

-menuju KUHES-


Perkembangan ekonomi syari’ah dewasa ini semakin menunujukkan eksistensinya dalam menjawab tantangan gejolak perekonomian yang ada baik itu di Indonesia maupun di dunia. Terbukti secara nyata sistem ekonomi yang bersandar pada hukum islam ini mampu dengan baik melewati kondisi megakrisis ekonomi yang terjadi pada akhir tahun 2008 kemarin. Hingga muncul wacana besar yang mengangkat bahwa sistem ekonomi syari’ah merupakan alternatif atau bahkan solusi yang terbaik dalam menjawab kegagalan sistem ekonomi konvensional saat ini.

Menyadari akan keberadaan sistem ekonomi syari’ah sebagai fitrahnya sistem ekonomi dunia, ramai-ramai Negara di berbagai belahan dunia berupaya menerapkan sistem ekonomi syari’ah sebagai basis kegiatan ekonominya tidak terkecuali di Indonesia yang notabenenya merupakan Negara muslim terbesar di dunia.

Sangat disayangkan kemudian perkembangan sistem ekonomi syari’ah yang memang disadari berangkat dari pergerakkan lapisan bawah ini kurang mampu direspon dengan baik oleh pergerakkan pada lapisan atas. Dalam arti perkembangan sistem ekonomi yang bersumber dari pergerakkan rakyat ini tidak mampu diimbangi dengan baik oleh peran pemerintah dalam mengkatrol regulasi yang mampu memayungi percepatan perkembangan ekonomi syaria’ah, terlebih lagi di Indonesia.

Kelahiran Undang Undang No 3 tahun 2006 tentang perubahan atas Undang Undang No 7 tahun 1989 tentang Pengadilan Agama memang membawa implikasi besar terhadap perundang-undangan dan sejarah hukum ekonomi yang patut kita syukuri bersama. Kewenangan penyelesaian perselisihan atau sengketa hokum bidang ekonomi syari’ah yang tadinya berada di tangan Pengadilan Negeri yang belumdapat dianggap syari’ah kini berada sepenuhnya di tangan Pengadilan Agama.

Yang menjadi perhatian besar di sini adalah, ketika kewenangan tersebut berada sepenuhnya di tangan Pengadilan Agama, maka kemudian dibutuhkan adanya sebuah pedoman hukum utama bagi pengadilan agama untuk dapat memutuskan suatu perkara terkait pada perkara-perkara ekonomi syari’ah dengan sebaik-baiknya. Dan itulah yang sampai saat ini belum dimiliki oleh Pengadilan Agama kita.

Kehadiran Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah (KHES) memang menjadi prestasi yang patut disyukuri keberadaannya, namun patut kita sadari pula bahwa keberadaannya tidak lebih sekedar “pegangan” bagi para hakim dalam Lingkungan Peradilan Agama dalam memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah. Tidak jauh beda dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI), KHES dianggap hanya sebagai pintu darurat untuk menghindari kekosongan hukum yang ada.

Belum adanya instrumen hukum layaknya Kitab Undang Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang menjadi pedoman utama pada Peradilan Negeri kita dalam memutuskan perkaranya menjadi satu kekhawatiran tersendiri akan kemungkinan timbulnya disparitas putusan hukum Pengadilan Agama dalam menyelesaikan perkaranya. Terlebih lagi dengan karakteristik bidang muamalah yang bersifat “elastis dan terbuka” yang sangat memungkinkan barvariasinya putusan-putusan hakim nantinya yang kemudian dapat menghalangi pemenuhan rasa keadilan yang menjadi pilar keberadaannya.

Karenanya penulis mengajak kepada pembaca pada umumnya serta pemerintah secara khusus untuk lebih mendorong serta mendukung terwujudnya bentuk instrumen hukum yang lebih baik dalam peradilan perkara-perkara yang menyangkut ekonomi syari’ah guna memacu peningkatan perkembangan sistem ekonomi syari’ah di Indonesia ke depan.

Wallahu a’alam bisshowwab…

Monday, December 21, 2009

-etika jurnalistik-


Jurnalistik Dalam Kacamata Islam

Jurnalistik sering diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mencari berita dan kemudian menyampaikan sejumlah berita yang telah didapatkan tersebut kepada khalayak umum di masyarakat. Definisi tersebut memang terkesan sempit namun banyak hal yang perlu untuk diperhatikan di dalamnya. Terutama terkait terhadap bagaimana menyikapi makna berita itu sendiri.

Apa yang dimaksud sebagai sebuah berita???

Secara umum sebuah berita dapat diidentifikasi dari keterpenuhannya terhadap aspek informasi yang harus mencakup kriteria “5W+1H”. Siapa yang diinfokan(who), apa yang diinfokan(what), kenapa muncul info tersebut (why), kapan info itu terjadi (when), dimana sumber info tersebut (where), dan bagaimana penjelasan terhadap info tersebut (how). Tidak hanya sebatas itu sebuah informasi sepakat untuk dapat dianggap sebagai sebuah berita jika kemudian memenuhi aspek keberpihakkannya akan kepentingan umum, menarik minat pembaca, serta kedekatannya dengan para pembaca.
Definisi singkat diatas sebatas pada pemikiran objektif yang secara umum kita dapat dari teori-teori jurnalistik yang ada. Pemahaman seperti ini menjadi modal dasar bagi para jurnalis terlebih seorang wartawan untuk dapat memenuhi tugasnya sebagai seorang pemburu dan penyampai berita. Bahkan banyak diantara mereka yang benar-benar secara saklek memegang definisi diatas sebagai satu-satunya pedoman dalam mencari sebuah berita. Tidak jarang kita melihat bagaimana pemberitaan media yang hanya sekedar memunculkan sensasi untuk menarik perhatian masyarakat, tanpa peduli apakah pemberitaan tersebut baik atau buruk untuk disampaikan kepada publik. Alasan yang kemudian dilontarkan atas pemberitaan tersebut sederhana: semua itu dilakukan untuk kepentingan umum.

Tapi apakah benar demikian?

Sejatinya makna sebuah berita yang diangkat oleh seorang jurnalis seharusnya tidak hanya pada batas-batas objektif itu saja. Aspek moral dan etika menjadi landasan kuat yang harus sama-sama dipenuhi dengan baik oleh seorang jurnalis, mengingat dimensi fungsional jurnalistik yang menyangkut kepentingan khalayak banyak pada umumnya yang dalam islam semua itu diatur dalam dimensi muamalah. Hal inilah yang seringkali kita lupakan dalam dunia jurnalistik kita dewasa ini, dimana kepentingan-kepentingan materil menjadi tujuan utama dari pemberitaan media hingga menembus batas-batas etika dan moral yang harus sama-sama diembannya.

Undang Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik dan peraturan perundangan lainnya termasuk beberapa bagian KUHP, bukan semata-mata menjadi alat bagi seorang jurnalis untuk menjamin kebebasan aktivitas mereka sebebas-bebasnya, tapi merupakan rambu-rambu sekaligus tujuan mulia yang diemban oleh dunia jurnalistik kita. Kebebasan itu diberikan bertujuan agar dunia jurnalistik kita mampu memenuhi kebutuhan bangsa akan informasi, pendidikan, hiburan, dan control social di masyarakat, serta berparan dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, mendorong terwujudnya supremasi hokum, melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan menyampaikan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan lain sebagainya.

Kita patut sadari memang regulasi yang ada belum benar-benar cukup memadai untuk mencapai tujuan mulia di atas jika memang kemudian hokum dan etika tersebut benar-benar ditegakkan. Namun juga bukan berarti kemudian tidak mampu kita lakukan.

Tidak dapat dipungkiri bahwasannya Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah seorang muslim tentunya memiliki mayoritas pelaku-pelaku jurnalistiknya juga merupakan seorang muslim. Tapi yang kemudain menjadi masalah di sini adalah sampai saat ini belum ada petunjuk, arahan, informasi yang mampu mengantar para jurnalis untuk dapat melihat korelasi hubungan antara peran jurnalistik yang diemban dengan ketentuan-ketentuan syari’ah muamalah yang harus dipegang mereka sebagai pribadi seorang muslim. Disadari atau tidak itulah yang dirasakan saat ini. Padahal jika kemudian hal ini secara sadar kita pahami sebagai sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam dunia jurnalistik kita niscaya tujuan mulia yang diemban akan mampu dengan baik kita capai bersama.

Islam sebagai agama yang syamil mutakamil mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di dunia, tidak terkecuali pada bagaimana dunia jurnalistik yang ada. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an terpampang jelas akan bagaimana etika seorang jurnalis dalam mentikapi sebuah berita yang muncul dihadapan mereka. Salah satu diantaranya termaktub dalam firman ALLAH surat Al-Hujurat ayat enam yang berbunyi:
“hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Ayat di atas mengatur secara singkat bagaimana sikap kita baik sebagai seorang jurnalis atau masyarakat umum sekalipun dalam menyikapi berita yang kita dapat dari sumber-sumber yang terkait. Kewajiban kita disitu setelah mendapatkan sebuah berita adalah bagaimana kemudian mengkroscek pemberitaan yang muncul dengan baik agar kemudain tidak malah menimbulkan kerugian bagi orang lain atau bahkan menimbulkan musibah bagi orang lain baik dalam individu maupun kelompok.

Itu adalah sebagian kecil hukum-hukum syaria’ah muamalah yang mengatur bagaimana etika kita dalam aktivitas dunia jurnalistik yang seharusnya dipegang untuk mencapai peran jurnalistik yang lebih baik. Baik di hadapan manusia maupun di hadapan ALLAH. Hingga pada akhirnya saya mengajak pembaca sekalian untuk tidak lagi kemudian mengkotak-kotakkan kedua hal tersebut (syari’ah dan jurnalistik) dalam dua focus yang berbada melainkan menyikapi dunia jurnalistik kita sebagai bagian yang integral dengan peran kita sebagai pribadi muslim yang sejati.

Wallahu a’lam bisshowwab…

By: abankz88batavian

Tuesday, December 15, 2009

-DONKOL teori-


-belajar melihat-

Dalam konteks perdebatan seringkali kita menjumpai pihak-pihak ataupun kubu-kubu yang saling membenarkan diri mereka masing-masing. Satu hal yang sangat wajar melihat tiap diri punya mata yang berbeda. Tidak hanya pada hal-hal yang berat bahkan hal-hal ringan sekalipun, tidak hanya pada hal-hal yang syubhat bahkan hal-hal yang zahir sekalipun, dan tidak hanya antar lawan bahkan antar kawan sekalipun. Ngga usah jauh-jauh, di lingkungan kampus saja. Hampir tiap hari saya berjumpa dengan aktor-aktor canggih seperti ini.

Pertama bisa dijumpai dalam lingkup dakwah kampus sendiri, penulis tidak jarang melihat perdebatan-perdebatan aneh seperti ini. Yuukzz…

Bahlul 1 : “perayaan-perayaan seperti itu itu bid’ah akhi..!!”
Bahlul 2 : “tapi dalam konteks bid’ah juga kan ada yang di sebut bid’ah hasanah, dan itu dibolehkan akh. pada dasarnya setiap perbuatan itu hukumnya kan boleh, kecuali memang ada dalil yang mengharamkannya..”
Bahlul 1 : “dalilnya apa akh?!
Bahlul 2 : “ga usah pake dalil-dalilan dah yang penting kan baik”
Bahlul 1 : “nah itu salahnya. yang bikin islam itu ancur saat ini kan bid’ah-bid’ah seperti itu”
Bahlul 2 : “klo niatnya untuk kebaikan dan mencegah maksiat apa ngga lebih baik dikerjakan??”
Bahlul 1 : “maksud nte??!”
Bahlul 2 : “daripada kemudian pas malam taun baru pada pacaran misalnya, lebih baik kan kita mengajak mereka untuk sama-sama kumpul merayakan tahun baru hijriah dengan ngaji dan merefleksi diri misalnya”
Bahlul 1 : “ya klo dalam hal mengajak pada kebaikkan c itu sah-sah aja, tp perayaannya itu yang harus digarisbawahi. jangan sampai hal-hal seperti itu justru dianggap menjadi suatu hal yang wajib bagi mereka, klo dah merasakan itu sebagai hal yang harus dilakukan, nah itu bid’ah namanya”
Bahlul 2 : “itu c tergantung dari bagaimana pribadi-pribadi mereka dalam menyikapinya. yang jelas kan sebenarnya perayaan-perayaan seperti itu Cuma sebagai instrument mereka saja untuk kemudian mengingat ALLAH ”
Bahlul 1 : “nah itu yang dianggap rawan. klo begitu saja menyerahkan semuanya pada pribadi masing-masing ya jelas akan membuka kemungkian semua itu menjadi bid’ah..!!”
Bahlul 2 : “tapi bukan kemudian kita mengeneralisir semuanya kan?!!”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Begituuuu aja seterusnya, muter-muter disitu-situ juga. Dari mulai bid’ah sampai harokah, dari bedug subuh ampe bedug subuh berikutnyahhh. Sampai mereka pun ngga sadar bahwa mereka masing-masing telah lalai dengan kewajibannya lantaran debat sia-sia yang intinya satu suara jika mau untuk ‘belajar melirik’ mereka untuk melihat lebih sempurna. Sana-sini bid’ah shalatnya ‘ya sudahlah…’

Buat orang ketiga yang duduk bersama mereka berdua, mungkin ini menjadi pertunjukkan wayang yang membosankan. Seperti kipas angin yang mendinginkan suasana, keberadaan dia Cuma sebagai juri sekaligus wasit atau time keeper yang menjaga debat kusir tersebut berlangsung aman tanpa hambatan. Panjaaaaaaa……ng ngga ada habisnya.
Belum lagi beberapa kesempatan akhir-akhir ini. Beberapa kali saya bertemu dengan hal-hal yang serupa. Saya sendiri merasakannya. Lantaran kiriman note berisi do’a akhir tahun yang ane tag ke salah seorang sahabat tercinta, beliau lantas berkomentar..

Sobat : “eh, apa dalilnya itu do’a yang lo tag??”
Ane : “yah yang namanya do’a akh.. selagi itu baik”

Alhamdulillahnya c Cuma sampai disitu aja beliau bertanya, setelah sebelumnya memang diawali juga dengan ketegangan saya kala menyikapi acara blogger yang sebelumnya saya ikuti. Pertanyaan yang sederhana dan baik buat koreksi pribadi namun kemudian sedikit nusuk serta menggoyahkan niat ane yang tadinya dengan tulus untuk memberi dan mengajak beliau pada kebaikan menjadi dumel bin keseul yang berkepanjangan. Mungkin klo kemudian beliau bertanya lebih jauh lagi, bisa saya jambanin juga tuh… alah.. emossssi..!!

Tambah lagi kemaren, Cuma lantaran kaos hampir satu kelas perkuliahan berantem. Ada-ada ajjah.. Gara-gara tulisan iseng dalam kertas edaran pemesanan kaos angkatan, penanggung jawab pembuatan kaos itu pun bersitegang dengan teman-temannya sendiri. Sederhananya beginilah jalannya pertempuran.

Sobat PJ : “di kertas edaran ini ada tulisan-tulisan seperti ini ‘ni ukuran kaosnya valid ga sih? bisa liat sampelnya ga? Jangan sampai kaya AGRIGATE…!!!’
Sejenak seisi ruangan kelas pun menjadi hening tanpa denting.
Sobat PJ : “saya minta tolong yang nulis ini ngaku dan maju ke depan..!!”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Panjang sebenarnya itu omongan. Cuman redaksinya saya agak lupa. Tapi intinya c seperti ini.

Sobat PJ ketika itu tidak menerima tulisan yang dianggap menyindir telak beliau. Sampai beliau habis berkata, tidak ada seorangpun yang berani mengakui tulisan itu. Hingga keluar pernyataan.

Sobat PJ : “klo memang ga setuju saya megang proyek ini ya ini silahkan ambil (sambil melemparkan lembaran kertas pemesanan pembawa ketegangan).”

Yang membuat beliau sangat marah adalah tentang AGRIGATE di dalamnya. AGRIGATE merupakan sebuah kepanitian acara dimana di dalamnya beliaulah yang menjadi ketua pelaksananya. Entah apa yang sebenarnya terjadi saat AGRIGATE, yang jelas point itulah yang jelas-jelas membuatnya sangat marah bin gerah.

Yah begitulah ketika narsistme yang tadinya dibanggakan mulai menyentuh makna yang tak terkendalikan. “Sadari dan benahi itu”.. insyaALLAH..

Oh iye, satu lagi. Ini sedikit punya konteks yang lebih luas bahkan sangat. Tapi kemudian coba saya ambil dalam studi kasus di lingkup mahasiswa aja. Bagaimana baru-baru ini kampus dipanaskan dengan megakasus bank Century. Ramai-ramai mahasiswa yang tergabung dalam kelembagaan BEM, dan segelintir mahasiswa lain di ranahnya mengkritisi kebijakan pemerintah dalam mengambil langkah bailout untuk penyelamatan bank sekarat tersebut dalam demo besar-besaran yang ketika itu bertepatan dengan hari Pemberantasan Korupsi Dunia.

Luar biasa memang mahasiswa. Idealismenya untuk membela kepentingan rakyat menembus batas-batas rasional mereka walaupun hanya sesaat. Hiddup Mahhasiswa..!!!
Dari ketiga studi kasus di atas, “ciye studi kasus.. manstabbbGAN..!!”, hal yang kemudian saya tawarkan di sini adalah bagaimana sikap kita sebaiknya ketika berhadapan dengan kondisi serupa di atas. Berikut merupakan pendapat dangkal saya menyikapi masalah dangkal di atas, yang kemudian saya sebut dengan DONKOL Teori..

DONKOL Teori.. yaitu teori yang tepat untuk diimplementasikan ketika hati kita merasa donkol saat dihadapkan dengan debat konyol lagi ngocol..col..col..col..

D : Dual Position.. dalam arti mencoba menempatkan diri dalam dua posisi yang berbeda dan dianggap saling berlawanan. Dengan sikap seperti ini kita mencoba menarik alasan mengapa pihak lawan mengambil pendapat yang diyakininya tersebut.
O : Out Orientation.. menempatkan orientasi bukan untuk pribadi ataupun golongan kita semata. Menempatkan orientasi masalah di luar kepentingan pribadi sehingga mampu melihatnya dari dua sisi bersamaan secara sempurna.
N : Net Protection.. berusaha menjaga pihak lawan. Ini etika yang seringkali kita lupakan ketika berdebat dengan lawan. Bahkan seringkali timbul upaya-upaya kita sendiri untuk menjatuhkan pihak lawan. Padahal dalam konteks perdebatan, opinilah yang harus dikedepankan bukan siapa sosok di hadapan.
K : Kill Emotion..
O : Open Mind..
L : Long Time..

Silahkan artikan sendiri redaksinya yah.. puyer juga… DONKOL juga jadinya.. heuuuh..

-masih dalam revisi-

Sunday, December 13, 2009

-refleksi ekonomi rakyat-


Refleksi Ekonomi Rakyat

Berbicara mengenai konsep ekonomi rakyat, rasanya jadi inget masa-masa kampanye capres cawapres di pesta rakyat kemaren. Rame-rame masing-masing calon meneriakkan jargon ekonomi kerakyatan dengan pemahaman konsepnya masing-masing. Entah apa yang ada di pikiran beliau-beliau itu. Yang jelas jargon itulah yang menjadi komoditas politik mereka untuk kemudian dapat merebut hati masyarakat pemilih guna meraup suara rakyat sebanyak-banyaknya. Padahal tidak satupun konsep dari beliau-beliau yang secara nyata mampu menterjemahkan ekonomi kerakyatan yang ideal sebagai sistem ekonomi yang pro pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak.

Apa sih ekonomi kerakyatan???

Setelah sadar telah ditinggal pergi garudanya, sistem ekonomi garuda (ekonomi pancasila) memang dirasakan tidak lagi mampu menjawab keresahan masyarakat Indonesia terhadap gejolak perubahan ekonomi yang terjadi dewasa ini. Hingga kemudian muncul secercah harapan akan sebuah sistem yang bersandarkan atas nilai-nilai keadilan rakyat yang secara sederhana tertuangkan dalam sebuah konsep ekonomi kerakyatan.
Secara gamblang ekonomi kerakyatan dapat diterjemahkan sebagai sebuah paradigma baru dalam memandang sistem perekonomian suatu Negara yang di dalamnya didasarkan pada keberpihakkannya terhadap kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak terutama perhatiannya terhadap kesejahteraan masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah yang dianggap secara langsung paling merasakan dampak negatif dari perubahan kondisi perekonomian bangsa pada setiap waktunya. Sehingga pada gilirannya di dalam pelaksanaannya di lapangan, paradigma ekonomi kerakyatan ini berusaha semaksimal mungkin untuk kemudian dapat secara tegas membela kepentingan masyarakat kecil pada umumnya.

Bentuk skema yang kemudian menjadi trend kebijakan pemerintah saat ini dalam mengimplementasikan sekian konsepnya dalam menterjemahkan sistem ekonomi kerakyatan terlihat dari program-program pemerintah, seperti pemberian akses modal kepada usaha kecil (KUR, PNPM, PUAP, dsb), dan subsidi besar-besaran kepada petani dan nelayan miskin dan sekian produk lembaga/institusi keuangan negara lainnya.

Secara konseptual skema pendistribusian keuangan Negara ini memang baik untuk kemudian diterapkan di masyarakat. Namun yang selanjutnya menjadi permasalahan disini adalah bagaimana kenyataan akan kondisi riilnya di lapangan. Sekian banyak kasus yang ada, seringkali ditemukan perputaran uang Negara yang pada hakikatnya juga merupakan uang rakyat ini tidak kemudian disertai dengan kondisi riil yang tercipta di masyarakat. Banyak diantara sekian modal yang digulirkan pemerintah kemudian berakhir pada kegagalan pencapaian kondisi riil di lapangan. Selain dapat dianalisis dari bagamana perilaku mental masyarakat sebagai pengelolanya, akar permasalahan ini juga dapat ditarik dari bagaimana kegagalan pemerintah dalam mempersiapkan instrument riil yang mampu mendukung skema yang digulirkannya.

Apa c maksudnya???

Dari sekian banyak skema distribusi kekayaan Negara yang dilakukan pemerintah saat ini, sebagian besar diantaranya masih dipegang oleh instrument-instrument konvensional yang berbasiskan bunga dengan produk-produk yang bersifat ribawi. Sehingga pada gilirannya bagi masyarakat penerima dana/modal ini menjadi sebuan beban yang sangat-sangat memberatkan mereka. Sehingga kemudian konsep yang pada awalnya baik tidak lantas memuluskan upaya pemerintah dalam membela kepentingan rakyat kecil secara keseluruhan serta pencapaian sistem ekonomi yang berkeadilan di dalamnya.

Pada hakikatnya, ekonomi kerakyatan sebenarnya memiliki semangat yang sama dengan konsep ekonomi syariah secara nyata, di dalamnya keberpihakan pada kepentingan rakyat adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda;

”Sesungguhnya kalian akan ditolong dan diberi rezeki oleh Allah dengan sebab (menolong) kaum dhuafa di antara kalian”.

Hadis ini mengisyaratkan kepada kita bahwa rezeki dan pertolongan Allah akan datang manakala kita melakukan pembelaan terhadap kepentingan kaum dhuafa. Ada korelasi yang sangat kuat antara kesejahteraan, keadilan ekonomi, dan pembelaan hak-hak rakyat miskin di dalamnya.

Pada akhirnya saya kemudian mengajak, terutama pada diri pribadi sendiri khususnya, pemerintah pengambil kebijakan, serta sahabat pembaca semua pada umumnya untuk kemudian menyadari mana instrument ekonomi yang menjadi fitrah ekonomi kita pada hakikatnya yang kan mampu membawa diri dan bangsa ini mencapai asa ekonomi kerakyatan yang berpihak kepada rakyat secara nyata, berkeadilan dan berkeseluruhan. Singkat kata pendek bicara, semua itu dapat terjawab ketika kita mampu secara sadar untuk kembali kepada tuntunan-NYA dalam fitrah sistem ekonomi syariah.

Wallahu a’lam bishawwab..

Saturday, December 12, 2009

-tiada yang mampu melemahkan-


“Ya ALLAH, tidak ada penghalang terhadap apa yang telah Engkau berikan, tidak ada pemberi terhadap apa yang telah Engkau halangi, tidak ada yeng menolak terhadap apa yang telah Engkau tetapkan, dan tidak akan bermanfaat bagi-Mu kekayaan orang yang mempunyai kekayaan. Ya ALLAH, tidak ada penyesat bagi orang yang telah Engkau beri petunjuk, tidak ada pemberi petunjuk bagi bagi orang yang telah Engkau sesatkan, tidak ada kecelakaan bagi orang yang telah Engkau beri kebahagiaan, tidak ada pemberi kebahagiaan bagi orang yang telah Engkau celakakan, tidak ada pemberi kemuliaan bagi orang yang telah Engkau hinakan, tidak ada pemberi kehinaan bagi orang yang telah Engkau muliakan, tidak ada pengangkat bagi orang yang telah Engkau rendahkan, dan tidak ada yang merendahkan bagi orang yang telah Engkau angkat. Ya ALLAH, tunjukilah kami terhadap apa yang telah Engkau perintahkan kepada kami, sempurnakanlah untuk kami janji-Mu berupa kebaikan dunia akhirat, kuatkanlah iman dan keyakinan kami terhadap apa yang telah Engkau beri pengharapan kepada kami, dan tolonglah kami atas musuh-musuh kami, lahir dan batin. Dan aku memohon pada-Mu apa yang dimohonkan oleh kekasih-Mu Ibrahim as. berupa nur dan keyakinan, juga apa yang diminta oleh Nabi Muhammad saw. berupa pertolongan, taufiq dan ketetapan hati. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.”

Monday, December 7, 2009

-penantian-


Sampai kapankah ku harus seperti ini
Laiknya lilin kecil yang lelah menerangi
Hanya harap yang membuatku tegap
Menanti akhir ceritamu ini

Sungguh tak mampu ku memberi arti

Diamku tak sedikitpun kau fahami
Diammu tak jua menjawab semua ini

Limpahan kasih telah ku persembahkan
Kiranya semua hanya sebuah permainan
Hanya diam yang terus ku dapatkan
Hanya pilu yang terus di hadapkan

Terlalu indah untuk di lupakan

Walau pahit untuk kutelan
Walau pedih untuk kutahan
Kurelakannya…

Kau jauh saat hati berharap
Kau dekat bila kau suka
Terasa diri tak mempunyai arti

Sampai mana ini berakhir??? Sungguh aku tak mengerti
Klo benar ini buta, butakah aku???

Pintaku tuhan, tulusnya hati dan memahami
Jika semua tiada, penantianku sebatas luka

Trima kasih kawan atas semua kesempatan
Mengisi hati walau hanya di tepian
Syukurku panjatkan pada TUHAN
Atas semua anugerah yang tiada mungkin terlupakan

insyaALLAH...


-untukmu sahabat yang menanti 'cinta'...-


by: abankz88batavian

Sunday, December 6, 2009

-ah, babi lw..!!!-


-ibarat sapi dan babi-

perkembangan ekonomi syariah saat ni semakin menunjukkan konsistensinya dalam menjawab tantangan perubahan yang ada. terbukti secara nyata keberadaan ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi alternatif di dunia mampu membawa penganutnya untuk tetap survive menghadapi goncangan hebat krisis ekonomi global dewasa ini. sebagai sistem ekonomi alternatif, sistem ekonomi syariah bukan hanya diterima oleh negara-negara muslim saja bahkan dengan baik mampu diterima oleh kalangan-kalangan rasional uni eropa. bahkan dalam perjalanannya, inggris yang notabenenya bukan negara muslim menerima dengan baik sistem ekonomi syariah sebagai basis pembangunan perbankan di sana. dengan pendirian bank umum syariahnya inggris secara tidak langsung membuktikan bahwasannya sistem ekonomi inilah yang memang menjadi fitrahnya sistem ekonomi dunia.

lalu mengapa setelah terbukti mampu menjawab tantangan ekonomi yang ada, sulit sekali bangsa ini yang notabenenya bahkan sebagai negara muslim terbesar di dunia tidak mampu menjadikan ekonomi syariah sebagai basis sistem ekonomi nasionalnya???

jawabannya ada pada pribadi muslim kita masing-masing.

sudahkah kita secara sadar menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam tiap aktivitas hidup kita?

sudahkah prinsip-prinsip syariah menjadi nilai luhur yang menghujam dalam benak kita?

sudahkan kita merasa memiliki islam sebagai hakikatnya?

banyak dintara pribadi muslim kita sendiri yang justru meragukan keberadaan ekonomi syariah saat ini, bahkan banyak pula diantaranya yang secara tegas mengkritisi keberadaannya dan tanpa ragu berpaling darinya.

“apa yang berkembang saat ini apakah upaya kapitalisasi ekonomi islam ataukah islamisasi ekonomi kapitalis”

itulah kata mereka. dua kalimat yang sebenarnya sama makna untuk mengjatuhkan ekonomi syariah.

mereka bukanlah orang yang awam terhadap ekonomi melainkan justru mngerti dalam-dalam bagaimana itu ekonomi. pemahaman yang dalam akan teori-teori ekonomi konvensioanal yang mereka dapat jauh sebelum mereka mengenal ekonomi syariah mampu menimbun dalam-dalam nurani hati mereka akan fitrah ekonomi yang sebenarnya. padahal secara rasionalpun keberadaan ekonomi syariah sejatinya menjadi sistem ekonomi yang lebih baik adanya bagi mereka.

yang pada hakikatnya menjadi pemicu antipati mereka dan sebagian besar kita terhadap ekonomi syariah sebenarnya justru adalah keragu-raguan kita untuk memegang teguh sistem ekonomi syariah yang berkembang saat ini. sikap ini memang perlu untuk kemudian memacu perkembangan ekonomi syariah selanjutnya, namun tidaklah lebih baik jika hanya sekedar menghakimi tanpa lantas mencoba memperbaiki dan memberikan solusi atas kekurangan yang ada. banyak diantara kita yang sebenarnya mengerti tapi ragu untuk memilih justru malah berpaling dari ekonomi syariah dan terpaksa mempertahankan apa yang mereka pegang selama ini (ekonomi konvensional). semisal saja bagaimana sikap sebagian dari kita terhadap institusi perbankan. kita sebenarnya mengerti bagaimana kebaikan perbankan syariah itu bagi kita sendiri dan masyarakat lain pada umumnya (maslahat), namun keragu-raguan terhadap penerapan sistem yang ada ternyata menyelimuti nurani hati kita sebagai pribadi muslim sejatinya.

yang perlu kita pertanyakan saat ini, apa landasan keterikatan kita sebagai muslim? apakah benar-benar karena kita faham terhadap islam dan atas dasar kefahaman itu kita mencintai islam sebagai agama yang diridhoi ALLAH ataukah hanya sebatas ‘warisan’ keyakinan dari orang tua kita saja???

jawaban sederhana atas keragu-raguan yang kita hadapi sebagai lawan terberat kita untuk memenangkan ekonomi syariah mudahnya yaitu analogi ringan sebagai berikut:

manakah yang saudara pilih?

daging sapi yang diragukan kehalalannya karena pemotongannya lewat mesin (dipotongnya pake bismillah atau ngga yah???) ataukah daging babi yang jelas-jelas haram keberadaannya???

mungkin itulah yang menjadi kesimpulan sekaligus jawaban atas keragu-raguan kita saat ini untuk kemudian kembali memegang teguh prinsip ekonomi syariah ke depan dan bersama-sama memperbaiki dan memberi solusi atas permasalahan penerapan pengembangan ekonomi syariah di indonesia saat ini.

mimpi hanya sebatas mimpi jika tanpa adanya solusi, solusi hanya sebatas solusi tanpa adanya aksi, dan aksi hanya sebatas aksi tanpa kemudian memberi bukti.

bergerak untuk INDONESIA yang lebih baik!!!

Monday, October 19, 2009

-kembali-


>>> menuju ekonomi syari’ah <<<

Potret kemiskinan bangsa kini kian menganga.. semakin jauh rasanya jarak itu dibuatnya.. kaya miskin semakin jelas terpampang nyata, akibat sistem yang melenakan kita semua…

Sadarkah kita tergiring tuk menjauhi mereka.. sadarkah kita dibodohi sistem dunia.. sadarkah kita kian mendzolimi mereka.. sadarkah kita turut menambah jumlah mereka2 yang sama.. SADARKAH KITA TELAH INGKAR DARI JALAN-NYA…?????

Inilah aku dan indonesiaku…
Aku ada di sana dan ku sadari itu semua…
Tapi ku hanya bisa terpaku, membisu tanpa berbuat apa2…

“itu adalah takdirnya, peduli apa aku dengannya!!!”
Kata2 bodoh yang hanya dimiliki oleh orang2 bodoh...
Seperti itulah dulu nggapanku untuk mereka...

Siapa mereka & mengapa semua itu ada???

Bodohnya aku menganggap mereka bukanlah siapa2…
Bodohnya aku menganggap mereka hanya benalu bangsa…
Bodohnya aku membiarkan mereka berjalan begitu saja apa adanya…

Mereka ada karena kita ada…
Mereka ada karena sistem yang memaksa mereka…

Sistem kapitalis yang membuat mereka semakin miris…
Sistem kapitalis yang membuat mereka semakin menangis…
Sistem kapitalis yang membuat kita semakin bengis…

Kapitalisme membuat mereka jauh dari berada…
Kapitalisme memaksa kita berlomba-lomba menjauhi mereka…
Kapitalisme ada karena kita membiarkan itu ada…

Bukan lagi kemudian menyalahkan itu semua…

Hakikat jalan sudah ada…
Kembali pada jalan-NYA dan raih itu semua…
Kembali pada syariat-NYA kerena itu adalah fitrahnya…
Kembali pada orbit-NYA dan maknai tiap jalan lintasan-NYA…

Syariat tidak semata-mata membatasi kita…
Syariat tidak semata-mata mengekang kita…
Syariat tidak semata-mata menghukum kita…

Syariat ada untuk menjadikan kita lebih mulia…
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Kebahagiaan hidup bukan diukur pada diri semata, kebahagiaan hidup diukur dari kehidupan-kehidupan di sekelilingnya…

Keberadaan kita bukan semata-mata untuk kita…
Kita ada untuk mereka… mereka berharap pada kita… & mereka mununggu kita memulainya…

insyaALLAH...

-karakter bangsa terhadap ekonomi syari'ah-


-karakter bangsa terhadap ekonomi syari’ah-

Perkembangan sistem ekonomi syari’ah yang kian pesat tidak hanya dirasakan bangsa Indonesia yang notabenenya merupakan Negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Sistem ini terbukti kian berkembang di beberapa Negara non-muslim yang tergolong Negara maju, sebut saja Inggris yang semakin progressif mengembangkan ekonomi berbasis syari’ah yang terutama terlihat jelas pada perkembangan industri perbankan syaria’ah Inggris yang kemudian melahirkan sebuah bank umum syariah.

Titik tolak perkembangan ekonomi syari’ah secara nyata tergambar semenjak jatuhnya perekonomian dunia yang dipicu oleh bobroknya kondisi ekonomi AS pada taun 2008. Dampak dari semua itu terutama sangat dirasakan oleh industri-industri keuangan termasuk perbankan dan sejumlah perusahaan besar yang aktivitasnya berbasis pada system bunga. Asialink Islamic Banking Colloquium yang di selenggarakan di Melbourne telah mendengar bahwa bank syariah berhasil keluar dari krisis ekonomi dengan memegang prinsip-prinsip syari’ah dalam menghimpun keuntungan dan bagi hasil antara bank dan nasabah.

Sementara bagi perusahaan-perusahaan besar, prinsip-prinsip ekonomi syari’ah yang mengedepankan peningkatan aktivitas ekonomi sektor riil terbukti mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul akibat krisis ekonomi global tersebut. Secara nyata, berbagai aktivitas ekonomi perusahaan yang menyentuh nilai-nilai atau koridor pada prinsip ekonomi syari’ah mampu bertahan ditengah carut-marutnya kondisi perekonomian dunia. Di saat berbagai perusahaan yang berkiblat pada sistem ekonomi ‘ribawi’ mulai jatuh runtuh dari masa keemasannya, perusahaan-perusahaan baik skala kecil maupun besar yang mengikat diri pada konsep ekonomi syari’ah mampu berdiri tegak untuk tetap mempertahankan jati dirinya di medan juang ekonomi dunia.

Namun demikian kondisi di atas ternyata tidak kemudian membuka lebar mata sebagian besar penduduk Indonesia akan keberadaan ekonomi syari’ah sebagai fitrahnya sistem ekonomi dunia. Hal ini terlihat dari bagaimana karakteristik seseorang dalam memandang keberadaan ekonomi syaria’ah atau perbankan syari’ah khususnya.
1. Mereka yang memegang ekonomi syari’ah berdasarkan aqidah.
Dengan landasan iman yang kuat serta murninya aqidah, mereka yakin bahwa syariah’ah dengan ekonomi syari’ah syari’ah khususnya merupakan sistem yang akan membawa mereka pada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Mereka percaya behwasannya ekonomi syari’ah adalah sebenar-benarnya hukum yang mengatur kehidupan ekonomi manusia. Mereka pegang prinsip ekonomi syari’ah tanpa kemudian mengingkari ketentuannya (tidak mengkritisi keberadaannya).
2. Mereka yang memegang ekonomi syari’ah berdasarkan ilmunya (kritis terhadap keberadaan ekonomi syari’ah).
Pengetahuan mereka terhadap kebaikan sistem ekonomi syari’ah membawa mereka untuk kemudian berpegang pada syari’ah. Tidak jarang pengetahuan-pengetahuan yang mereka dapat muncul dari pengalaman-pengalaman empirik tentang kebaikan sisitem ini, baik itu pengalaman yang mereka alami sendiri maupun berasal dari pengamatan terhadap keberhasilan orang lain memegang prinsip ekonomi syari’ah. Keberpihakannya kepada ekonomi syaria’ah disertai juga dengan pandangan kritis mereka terhadap perkembangan-perkembangan ekonomi syaria’ah selanjutnya. Ada upaya selektif mereka terhadap keberadaan hukum yang ada serta upaya pengawasan terhadap munculnya aturan-aturan baru yang muncul mengatasnamakan ekonomi syari’ah.
3. Mereka yang dengan ilmunya justru menolak keberadaan ekonomi syari’ah serta kritis terhadapnya.
Di sinilah kemudian pentingnya keselarasan atau keharmonisan antara ilmu dan iman pada pribadi-pribadi manusia. Ilmu yang hanya berorientasi dunia dan untung semata tanpa kemudian diimbangi dengan kualitas iman yang menjadi pondasinya justru hanya akan berakhir pada pengingkaran diri terhadap fitrah jalan hidup yang telah di atur-NYA. Masih banyak diantara kita yang dengan mengatasnamakan ilmu yang dikuasainya justru menghujat tajam keberadaan system ekonomi syari’ah tanpa kemudian melangkah untuk memperbaiki sistem yang telah ada. Mereka hanya sekedar pemikir tanpa kemudian mau untuk mengukir.
4. Mereka yang memegang ekonomi syari’ah tanpa dasar ilmu yang mengiringinya. (menyamakan keduanya dan memilih ekonomi syari’ah)
Cenderung menjadi follower terhadap sistem yang ada. Mereka akan mengikuti apa yang baik dan mereka lihat dan rasakan terlebih dahulu keberadaannya tanpa kemudian mempertanyakan kenapa mereka harus memilihnya. Seharusnya mereka ini menjadi ladang potensial bagi para penggiat ekonomi syari’ah untuk semakin membumikan jatidirinya.
5. Mereka yang tanpa ilmu menolak keberadaan ekonomi syari’ah. (menyamakan keduanya dan memilih ekonomi konvensional)
Cenderung jauh lebih berbahaya dari mereka yang dengan ilmu mnolak keberadaan ekonomi syaria’ah. Tanpa dasar ilmu kemudian secara frontal menyerang keberadaan ekonomi syari’ah sebagai sistem ekonomi alternatif pengganti ekonomi konvensional. Menyamakan keberadaan keduanya atau bahkan menjelek-jelekkan system ekonomi syariah.

Lima karakteristik diataslah yang dirasakan masih muncul pada pribadi-pribadi yang bukan hanya dimiliki oleh kalangan non-muslim melainkan juga pada pribadi muslim bangsa Indonesia sekalipun. Secara nyata hal-hal mendasar inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah para penggiat ekonomi syari’ah untuk kemudian lebih jauh lagi melangkah mencapai kejayaan ekonomi syari’ah. Pendek kata, upaya membentuk paradigma positif masyarakat terhadap keberadaan ekonomi syari’ah mutlak secara dini untuk dilakukan guna mendukung perkembangan ekonomi syari’ah sebagai fitrah ekonomi dunia.

Wallahu a’lam bisshowab…

Friday, September 11, 2009

-sebenar-benarnya puasa-


"hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (al-baqarah:183)

lantunan ayat di atas merupakan perintah khusus yang diberikan oleh ALLAH kepada hamba-hambanya yang beriman. perintah wajib yang disebutkan dengan istilah "kutiba" dalam ayat tersebut menunjukkan keutamaan perintah shiam di bulan ramadhan. sungguh merugi orang-orang yang melewatkan kemuliaan ini tanpa ada kemuliaan dalam dirinya.

kewajiban melaksanakan ibadah shiam dinyatakan hanya diperuntukkan bagi mereka yang dikatakan beriman. karena tanpa dilandasi iman niscaya ibadah shiam ini hanya sekedar menjadi ritual yang berujung pada lapar dan dahaga belaka. sebagaimana rasulullah saw. mengingatkan dalam sabdanya yang berbunyi...

"akan ada diantara umatku yang melaksanakan ibadah shiam namun tidak sedikitpun mendapatkan pahala puasanya. mereka hanya sekedar mendapatkan lapar dan dahaga saja"

semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berdiri didalamnya... amiiin...

pondasi iman yang kuat menancab dalam lubuk hati manusia jelas akan membawa mereka pada tingkat ibadah yang sebenar-benarnya... keyakinan akan keberadaan zat maha agung yang senantiasa mengawasi setiap langkah perbuatan kita, tentu akan membawa diri kita untuk dapat memahami hakikat ikhsan dalam beribadah... tak terkecuali shiam yang notabenenya merupakan ibadah khusus yang nilainya menjadi rahasia antara ALLAH dan hambanya semata... dalam sebuah hadits qudsi shahih dijelaskan bahwa ALLAH SWT. berfirman:

"setiap amal putera Adam untuk dirinya, kecuali shiam. ia adalah untuk-KU dan AKU sendiri yang akan membalasnya"

insyaALLAH...

-antara 'cinta' dan persahabatan-


>>> dari sahabat Arya M. Pamungkas bwt sobat yang mencintai persahabatan...

Bisakah anda bayangkan Persahabatan tanpa Cinta?

Aku membayangkan Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik, karena dimana ada Cinta, Persahabatan selalu berada di dekatnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan.

Suatu hari, Persahabatan berpikir bahwa Cinta bisa membuat dirinya tidak mendapatkan perhatian lagi, karena Persahabatan menganggap bahwa Cinta lebih menarik daripada dirinya.¦seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku bisa lebih terkenal, dan lebih banyak orang memperhatikan aku. pikir si Persahabatan.

Sejak saat itu Persahabatan memusuhi Cinta. Saat Cinta mencoba bermain bersama Persahabatan seperti biasa, Persahabatan selalu menjauhi Cinta. Kalaupun Cinta menanyakan alasan kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beranjak pergi meninggalkan Cinta.

Hiks..Hiks…Kesedihan pun menghampiri Cinta, dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis sejadi-jadinya. Kesedihan hanya dapat termangu memandangi Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul dengan Kecewa, Putus Asa, Kemarahan dan Kebencian

Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. . Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai, karena meskipun Persahabatan cantik,tetapi sifatnya mulai menyebalkan. Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai karena banyak orang yang menjauhinya.

Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang menyesali keadaannya. Dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun mengungkapkan penyesalannya meninggalkan Cinta.

Singkat cerita¦Persahabatan dan Cinta kembali berteman baik. Persahabatan kembali menjadi pribadi yang menyenangkan dan Cintapun kembali tersenyum ceria. Semua orang melihat kembali kedua teman baik itu sebagai berkat dan Anugerah dalam kehidupan.

Sering kali banyak orang yang mencoba memisahkan Persahabatan dan Cinta, karena mereka berpikir, Kalau Persahabatan sudah dibumbui dengan Cinta, pasti akan jadi sulit Terutama bagi mereka yang menjalin persahabatan antara Pria dan Wanita.

Persahabatan merupakan bentuk hubungan yang indah antara manusia, dimana Cinta hadir untuk memberikan senyumnya dan mewarnai Persahabatan. Tanpa Cinta, Persahabatan mungkin akan diisi dengan Kecewa, Benci, Marah dan berbagai hal yang membuat Persahabatan tidak lagi indah. Berhentilah membuat batas antara Cinta dan Persahabatan, biarkan mereka tetap menjadi Teman baik.

Yang harus diluruskan adalah Cinta bukanlah perusak Persahabatan, justru Cinta memperindah persahabatan anda. Seringkali Cinta cuma dijadikan kambing hitam sebagai perusak sebuah persahabatan. SALAH BESAR seharusnya dengan adanya Cinta, Persahabatan akan semakin menyenangkan.

Bagi yang sedang menjalin Persahabatan penuhilah Persahabatanmu dengan Cinta, berikanlah Cinta yang terbaik untuk sahabatmu

Bagi yang sedang mengalami goncangan dalam Persahabatan¦ jangan salahkan Cinta ! tetapi cobalah perbaiki Persahabatanmu dengan Cinta, karena Cinta akan menutupi segala kesalahan, mengampuni dengan mudah dan membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Bagi yang belum mengerti arti Persahabatan¦ cobalah memulai sebuah Persahabatan, karena dengan Persahabatan kalian akan semakin dewasa, tidak egois dan belajar untuk mengerti, bahwa segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan kita.

Bagi yang sedang kecewa dengan Persahabatan ¦ renungkanlah, Apakah saya sudah menjalani Persahabatan dengan benar?†dan cobalah memahami arti Persahabatan buat hidupmu. Keinginan, semangat, pengertian, kedewasaan, kelemahlembutan dan segala hal yang baik akan engkau temui dalam Persahabatan.

Thursday, September 10, 2009

GK episode 6 'susu...susu'


GK episode 6 (sabtu, 18 juli 2009)
Agenda hari ini rasanya emang ga begitu padet… lebih banyak dimanfaatin bwt mengaktualisasikan diri ke dalam kehidupan warga desa Bendungan… jiah, intinya mah Cuma silaturahmi ke tetangga2 sekitar kontrakkan… ama konsultasi program ke pembimbing gladikarya kita, ibu Yuniar…
Kira2 jam 09.00 kita udah mulai bergerak menyisir rumah tatangga deket… kanan, kiri, depan, belakang… lahamdulillah sambutannya luar biasa… begitu masuk rumah tetangga langsung ada karpet merah… wah tamu terhormat rupanya… hahaha… becanda bu… karpet merah juga bwt keset di depan rumahnya…
Yang paling berkesan saat silaturahim pagi itu adalah ketika berkunjung ke rumah pak Yoyo tetangga depan rumah… luar biasa… beliau ternyata orang departemen pertanian pusat… yang kantornya ada di ragunan, Jakarta selatan… sosok yang sangat ramah dan kekeluargaan… sangan welcome dengan keberadaan kita… ngga ada kesan orang yang baru dikenal ketika kita banyak ngobrol dengan beliau… orang tua banget dah… paham banget dah sama bagaimana kegiatan kita… mungkin lantaran sama2 orang pertanian kali ya… tapi kayanya memang beliau ini punya kepribadian yang sudah sangat ramah dengan semua orang… “terimaksih pak”…
Weits, ngga lupa… selama kita banyak ngobrol dengan pak YoYo ini kita juga dijamu makan siang lho… wah ruarrr biasa dah pokoknya… kbetulan memang belum makan siang… tanpa cuci tangan, dihajarlah itu sop ceker ayam dengan teri jengkol goring ala yoyo food… alah… hatur nuhun pak… hampir sekitar jam 1an bru berez dah kita silaturahmi dengan keluarga pak yoyo… Alhamdulillah… itulah manfaat silaturahim… memperpanjang rizki… haha…
Agenda silaturahmi berez, kita pun kembali ke istana… ampe sekitar jam stengah3an kita lebih banyak ngobrol2 diskusiin agenda kegiatan besok ma pentingnya lagi ngomongin konsultasi program ma bu Yuniar pembimbing gladikarya kita… bayangin udah seminggu gladikarya jalan kita blom bisa nentuin komoditas unggulan yang bakal kita kembangin di sasana karya, Bendungan village… alah…
Jam 3an barulah kita berangkatzz menuju kediaman rumah ibu yuniar… sebenernya si kita janjian awal di kampus BS… kebetulan hari itu beliau ada agenda seminar di sana… cuman rupanya seminar selesai lebih awal dari waktu janjian kita… janji jam 4 seminar rebez jam 3an… dari pada harus nungguin kita dateng ke BS (tega amat orang tua ndiri disuruh nungguin anaknya yang pada kga jelas) mending kita ketemu aja dah langsung di rumahnya… sepakat…!!!
2 pria tampan berkendara motor sementara ibu2nya harus ikhlas naek ankot… afwan bu… demi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia… apaaa maksudnya… 2 versus 3 bu… klo satu ibunye mw di seret2 c gpp… taro dipentil juga ribedh…
Sampe kira2 jam 4an di rumah kediaman ibu Yuniar, ane ma kang dhida shalat asharan dulu di mesjid polres Bogor… rupanya rumah ibu kita ini persis di belakang polres Bogor pren… tepatnya di prumahan kota baru… selesai asharan ane ma dhida pun langsung menuju rumah ibunda…
Sudah lama menunggu rupanya… kga perlu dijelasin panjang lebar ye… “off the record” euy … rapat tertutup klo bahasa Senayan-nya mah… yah, intinya si kita cuman minta saran program gladikarya yang bakal kita laksanain ke depan… dari kita udah ada 2 rencana program yang bakalan kita laksanain… tapi masalahnya kita harus milih salah satu dari 2 rencana itu… soalnya punya masing2 komoditas yang berbeda… (program dibahas pada rubrik terpisah… maaf ya)… cuman minta arahan aja dari kedua program itu… gitu pren ceritanya… (koq malah diceritain ya)…
Alhamdulillah… berezz juga kita konsul… dan hasilnya, ruarrr biasa… delapan bungkus susu fapet kita bawa pulang tanpa kepastian program… yah masih cukup bersyukur lah… seengganya pilihan sudah mengerucut dan mengarah pada satu program unggulan… tambah lagi bawa pulang susu mamen…
Iren : “elu2 mah pada munafik, pada mw tapi ngga pada ngomong”
Abankz : dengan nada canda … “bukanya munafik, emang kita sengaja nunggu iren ampe ngmong pengen susunya… dari awal dah ktauan paling pengen” haha…
Yah, bgitulah keseharian tiap aktivitas kita… ngga pernah lepas dari yang namanya canda dan tawa… selagi canda dan tawa belum dilarang…
Akhirnya tibalah kita menuju sasana karya… sementara ane, dhida, dan revi kembali pulang menuju bendungan village… iren ama wina dijemput ojek kehidupannya masing2… kang ivan ama kang rizki sang pangeran kemaleman… fuuuh…
Perjalanan malem yang cukup melelahkan rupanya… kira2 jam 20.30 ane ma revi baru nyampe di istana tercinta… sementara dhida yang malem itu diundang sang mertua tuk makan malem baru tiba sekitar jam 22.00… waw malam minggu yang indah rupanya…
Huuuuhhhhh, capek juga ye… udahan dulu dah ceritanya… besok kita lanjutkan petualangan kita… insyaALLAH…..

To be continue…>>>>>

Monday, September 7, 2009

GK episode 5 'capek deh'


GK episode 5 (jum’at, 17 juli 2009)

Seperti biasa, berezz briefing kira2 pukul 09.00 kita langsung gerak jalankan agenda kegiatan hari ini… misi awal hari ini masih dalam tahap menyelesaikan identifikasi potensi wilayah desa bendungan… kali ini tim 2, yaitu ane dan mami iren masih kudu harus lagi wawancara sisa jatah agenda yang harusnya berezz dari kemaren… sungguh terlalu…

Rw yang sungguh beruntung tim temui pagi yang cerah itu adalah rw 05 dan rw 07… wilayah rw 07 ternyata lebih mudah kita dapatkan… tim pun akhirnya berhasil menemui siapa orang yang dimaksud… pa aming, itulah ketua rw 07 punya nama… wow luar biasa itu rw punya kediaman… begitu masuk rumahnya berasa kaya masuk keraton… tuh rumah gueddenya bin lebarnya… sederhana si tapi berkomplek-komplek… gemana si rumah keraton… itu satu komplek punya wilayah rupanya numpuk rumah2 keluarga dan kerabat deketnya… widiiih… canggihlah pokoknya…

Puas mengagumi itu rw punya komplek pribadi, tim pun langsung ngobrol banyak dengan pa aming… sayangya, tak semegah istana yang ada, informasi yang kita dapatkan pun lagi2 jauh dari kemegahan asa yang diasa… yah tetap harus banyak bersyukur lah… ngga lama berbincang… cabut lagi lah tim menuju rw selanjutnya yang paling buncit kita kunjungi…

Rw 05 tujuan tim selanjutnya… wadaw mami… rupanya medan tempuh yang harus kita hadapi sungguh menantang adrenalin tim… gujlak-gajluk… dek gedek gedek… haduh, pulang survey kudu harus nyervis motor lagi nih… mamen bgt dah…

Huhhhh….. perjuangan berat harus tim lewati hingga sampailah tim di rumah kediaman pa khotib, itu ketua rw 05 punya name… duh, pegel kayanya penulis kudu harus nulis hasil wawancaranya lagi… lagi2 dengan penuh rasa bangga, kita harus terima bahwa rw 05 “NIHIL” potensi pertanian… capcai deh…

Rebezz wawancara… kira2 tepat jam 11.00… kembalilah kita pulang menuju sasana kontrakan bumi istana tercinta kita… I’m coming… nyampe di istana tercinta, semua kumpul… ane, dhida, revi, wina, dan iren pun diskusi ringan sambil rehat2an ngomongin apa2 hasil survey bin wawancara yang kita pada dapet dari rw2 desa bendungan yang udah sekitar 3 hari kita lakukan… yah begitulah…

Ngga lama diskusi, sang pejantan harus menunaikan ibadah wajib ‘ain shalat jum’at di mesjid setempat… bismillah…

Rupanya jum’atan di sini punya ritual yang kolot teuing… dua azdan diselingi do’a dan dua khutbah dengan bahasa arab… ahlu sunah wal jama’ah… berbeda, tapi itulah ragam ritual ibadah islam… yang jelas syahadatnya tetep ”asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah…”

Rebez jum’atan hari ini lebih banyak diabisin dikontrakkan, nyicil2 laporan gladikarya… iseng2 manfaat ane sendiri nyempetin baca buku targetan “fiqih jurnalistik” ma “ESQ power”… Alhamdulillah sela2 waktu kosong emang lebih banyak dimanfaatin baca buku… lebih iseung lagi nulis2 ngga jelas di laptop… termasuk ni tulisan… harepannya si bisa jadi kenangan manis gladikarya ane… insyaALLAH…
Hari ini cukup segitu dulu kayanya… masih banyak sebenernya aktivitas mah… Cuma udah punya rubric tersendiri dalem blog… heuheu… tunggu aja tanggal maennya…

To be continue……..>>>>>

Friday, August 21, 2009

GK episode 4... 'pak rohim oh pak rohim'


GK episode 4 (16 juli 2009)

Ga berasa hari ke-4 dah menyambut kita… 07.30 menjadi awal pergerakkan GK kita hari ini… pastinya diawalin dengan briefing rutin harian nentuin teknis pergerakkan seharian ini… ampe kira2 dua jam kita briefing kga jelas… tau dah apaan aja tuh yang diomongin… yang jelas baru sekitar jam 9an kita baru bergerak menuju ke kecamatan tuk silaturahim langsung dengan pa camat sekalian cari2 data yang sekiranya diperluin…

Klo mungkin kemaren kita ketemu pa camat sekedar temu sapa doank, kali ini kita bener2 diterima dengan baik di ruang kerjanya… widih manstabbb… ada yang dikit lucu bwt ane pribadi si, begitu kita dateng rupanya pa camat lagi mesen sepatu ma ibu2 tukang kredit… gile, bayangin tukang kredit aja bisa diterima jualan langsung di ruang dinas pa camat… canggih bener… apa camatnya yang gokil ye???… ngga masalah si… detilnya ane denger tuh camat mesen sepatu ukuran 40 warna coklat tua… jiah mantaabbb…..

selese mesen sepatu barulah pa camat menemui kita… jengjengjeng… ngga lama truzz si wina yang emang malemnya abis balik ke dramaga rupanya nyusul dateng ke ruang pa camat… kucluk3… lanjut, dhida sebagai jubir ketika itu kemudian memaparkan maksud kedatangan kita menemui pa zaenal sang camat kita di ciawi… intinya si kita mohon izin dari pihak kecamatan untuk melaksanakan gladikarya selama satu setengah bulan ke depan di desa bendungan, ciawi sekaligus meminta dukungan dan kerjasamanya demi kelancaran pelaksanaan kegiatan kita nantinya… dan Alhamdulillah dengan senang hati beliau sangat mendukung keberadaan dan kegiatan kita di desa bendungan ini… ya iyalah masa diusir… sungguh terlalu….. syukurlah pokoknya………………….

Rebezzz kita ngobrol2 ma pa camat, sebelum bergerak ke agenda berikutnya, kita2 nyempetin dulu tuk futu2 ma pa camatnya… jiah… ada2 aja…

Rupanya agenda kita hari ini bergerak menyusuri seluruh wilayah desa bendungan tuk survey ataw wawancara ke masing2 rw desa bendungan… tim pergerakkan di pecah menjadi 2… ane bergerak ama mami iren, sementara dhida harus bergerak dengan 2 nyonya lainnya revi dan wina… yah selamatlah kau kang…

Tepat kira2 pukul 10.00, cabutlah kita… misi pertama ane adalah mencari monografi desa bendungan di kantor desa… breeeeeeummm (suara motor maksudnya)… tiba di kantor desa, rupanya juru kunci kantor, bapak sekdes kita, pak firdaus udah lagi smsan di aula desa… ada2 ajah tuh kerjaan… tanpa banyak basabasi, sebentar nyapa dan minta izin ane dan iren pun langsung mencatat data monografi yang emang dah terpampang di dinding beralaskan whiteboard itu… ngga banyak yang kita catet, Cuma data2 potensi pertanian yang kayanya belom ada di data desa yang sebelumnya dah kita copy…

Rebezzz nyatet monografi, truzzz pamit, tim lanjut ke misi berikutnya yaitu wawancara ke beberspa Rw bendungan village… brankatzzzz…..

Rw pertama yang beruntung tuk kami kunjungi adalah rw 03… bermodalkan semangadh tuk mencari alamat tanpa alamat rumah yang dituju hanya dengan bekeul “malu bertanya sesat ngga balik2” akhirnya tim pun berhasil menemukan rumah yang dimaksud… sayangnya tim tidak bertemu siapa yang dimaksud… tim hanya bertemu dengan istri dari orang yang dimaksud… yah daripada ngga samasekali akhirnya kita pun cukup dengan mewawancarai si ibu rw ajah… yah Alhamdulillah walaupun masih kurang dari yang diharapkan setidaknya informasi yang didapat cukup tuk membuktikan bahwa rw setempat memang tidak memiliki potensi pertanian seperti yang diharapkan… huh, payah dah…

Kga pake banyak cingcong… tim langsung cabut ke rw berikutnya… breeuuummmm (suara motor lagi maksudnya)….. maksud perjalanan si menuju rw 04, eh kga tau kenapa malah justru nyasar ke rw 11… yah dibuang sayang akhirnya sekalian aja tim wawancarain, malah mumpung emang lagi diterima dengan senang hati dan kebetulan rw yang tim temuin langsung mempertemukan tim dengan ketua rt 02 setempat… brol ngobrol2… ternyata sammma ajjjah hasil yang di dapet… rw 11 is Zero Potention… jatoh2 malah si Rt ngarep modal bwt bikin usaha jamur tiram… jiah… boro2 modal… onkos 75 rebu yang dikasih departeman aja kga cukup bwt bayar ankot… beuhhhhh……………………

Lanjut ke tempat rw yang tadinya dimaksud yaitu rw 04… lokasinya sih dapet bahkan rumah tu ketua rwnya dah tim kunjungin… sayang seribu sayang orang yang dimaksud tidak ada di lokasi… ketua rw 04 yang tim maksud ternyata sedang ada di kecamatan… dan taukah anda ternyata siapa itu rw yang dimaksud adalah pa H. Ridwan yang sebenernya sempet kita temuin di kecamatan pas tadi pagi kunjungan ke sana… huuuh sayang sekali tim blom ngeh ketika itu……….. sungguh terlalu…………

Bingung kemana lagi tim hendak bergerak… akhirnya tim melalui mami iren menghubungi tim 2 bu revi… kita sepakat tuk kumpul dulu di depan gang Masjid gang tempat lokasi kontrakkan kita berada… pertemuan menghasilkan kesepakatan bahwa nanggung klo penelusuran dihentikan… maka lanjutlah tim 1 menyisir wilayah rw 05, 06, dan 07, sementara tim 2 menyisir wilayah rw 08, 09, dan 10… brankatzzzz…..

Lagi2… maksud ati menuju rw 05, justru wilayah rw 06 lah yang terkunjungi… tepat sampai di kediaman ketua rw 06 ternyata sedang berlangsung kegiatan posyandu rw setempat… tim ternyata diterima oleh ketua Rt 05/06 ibu enuy sebut ia... kebetulan saat itu ketua rw yang dimaksud memang tidak berada di lokasi (lagi kerja bu)… yah dah terlanjur bertemu akhirnya daripada nihil tim pun nyempetin ngobrol banyak ma tu ibu… namun lagi2 ngga banyak yang tim dapat… rw 06 adalah wilayah yang padat pemukiman… sulit tuk menemukan lahan pertanian di wilayah tersebut… yah begitulah potensi yang tim dapat dari obrolan dengan bu enuy… halah… capek deuh…

Mami iren dah puyer rupanya:

Iren : “gemana nih if, mw dilanjutin ngga?? Makin ke sana kayanya jawabannya sama aja deuh…”

Sama si dengan apa yang ane pikirin… sesame penderita puyer ketika itu… perjalanan tim hanya sekedar mencari lokasi wilayah rw 05 dan 07 ajjjah… tapi itu pun ngga dapet… akhirnya ane pun memutuskan tuk menuju ke kantor desa sekalian dzuhuran di mesjid… sampe di kantor desa rupanya temen2 laen dah stand by di sana… sementara iren ke dalam kantor desa, ane menuju masjid tuk shalat dzuhur… dhida pun ternyata sedang shalat…

Berezzz shalat, sempetin rehat sambil ngobrol2 ma dhida di teras mesjid…

Abankz : “gemana dha??”

Dhida : “yang masih ada lahan pertaniannya ya Cuma dir w 01 ma 02 itu tadi bank, yang di atas sana… itu juga bukan punya warga situ… punya orang Jakarta katanya”

Yah begitulah memang kondisinya… tiada kata putus asa… misi pun tetap mereka lanjutkan, menyisir rw 09 dan 10… sementara ane dan iren yang sebenernya sudah menyelesaikan target utama misi hari itu terpaksa harus menunaikan janji bertemu dengan ketua rt 03 dimana tempat kontrakkan kita berada… sembari pulang lah… cabut lah kita menuju istana… ngga lama berada di istana, Cuma sekedar naro bawaan atau tas lah, ane dan iren langsung menuju ke rumah ketua rt setempat yang dimaksud… sempet nyasar arah, nyadar salah arah ane langsung muter balik menuju kediaman pa rt rohim yang kita maksud… rupanya pa rohim sudah menunggu kedatangan kita… ane dan iren pun langsung disambut oleh pa rohimnya sendiri…

Clingak-clinguk ke plosok ruangan yang ada, ane benyak melihat bungkusan2 kripik pisang yang tertumpuk persis di pojok ruang tamu deket tempat ane duduk berlesehan beralaskan karpet ijo… ngga Cuma di pojok ruang itu ternyata di dalam ruangan yang bersebelahan dengan ruang tamu ane juga melihat setumpuk kripik pisang yang belum dibungkus seperti kripik yang ane lihat di pojiok ruang tamu itu… dalam benak hati “wah apa mungkin ini yang menjadi komoditas utama yang akan kita telusuri??”

Sedikit kata pendek bicara, tapi hamper selama dua jam kita ngobrol dengan pa rohim, hasilnya tidak juga seperti yang kita harapkan… 2 jam ngobrol lebih banyak ngelabunya… maksud ati mengarahkan pembicaraan pada usaha kripik pisang yang pa rohim jalankan eh jatohnya malah cerita sejarah idup beliau dari mulai tahun 70an ampe sekarang… haduh parah bgt dah… begitulah rt kami ini… ampe rombongan dhida tiba menemani ane dan iren rupanya pa rohim ini terus melanjutkan ceritanya… tadinya si berharap kedatangan dhida dkk bisa mengakhiri obrolan ga jelas ini, tapi justru malah makin terbawa dongeng panjang pa rohim… haduh pegeul brow…

Sekitar 15 menit sejak kedatangan dhida dkk, barulah akhirnya ane bisa memotong dongeng panjang pa rohim ini… mumpung ada kesempatan ane pun langsung berucap trimaksih dan langsung izin pamit pulang ke kontrakkan… Alhamdulillah akhirnya penderitaan panjangku berakhir… heuheu….. pengalaman yang sungguh ruarrrr biasa bisa berdongeng panjang dengan pa rt kita….. manstabbbbb…..

Parahnya hampir di sepanjang perjalanan menuju istana, kita hanya bisa menertawakan canda kondisi selama dua jam didongengin pa rohim… terlebih ane dan iren yang sepanjang cerita hanya bisa diam terpanah mendengar narasi penjang pa rohim ini… ngga brenti cuman di jalan, sampe di kosan pun tetep aja pa rohim menjadi bahan candaan tawa kita sepanjang hari itu… sungguh terlalu… kualat kau kawan…

Yah itulah sekelumit cerita sepanjang hari ini… mudah2 bisa menjadi pngejawantahan petualangan kita sepanjang hari ini… senantiasa berharap bahwa esok menjadi perjalanan yang lebih baik lagi… amiiin…

To be continue…………………………..

GK episode 3 ... pindah desa??? apakah...!!!


GK episode 3 (15 juli 2009)

Hari ini bergerak lebih awal rupanya….. jam 7.30 kita dah mulai briefing agenda kerja sehari ke depan… berdasarkan survey yang udah kita lakuakan, emang bakalan banyak tantangan yang bakal kita hadepin di bendungan village ini… bahkan mungkin inilah yang di sebut “the real challenge”… it’s the really2 problem… bayangin aja dari sekian survey yang kita lakukan hasilnya ‘potensi pertanian bendungan NIHIL”… bukan kita sendiri lho yang menyimpulkan… ini berdasarkan wawancara yang memang sudah kita lakukan sebelumnya itu… mulai dari wawancara pa sekdes, bu kades, amp ke orang2 UPT Perikanan dan peternakan yang kebetulan berada di desa bendungan setempat punya statement yang persis sama… parahnya lagi bukan justru kita dikasih motivasi untuk bener2 menggali potensi desa eh malah justru disuruh pindah desa… maksudnya si baek…

Sekdes : “saya juga ngga ngerti kenapa koq mahsiswa IPB ditempatin KKN di sini?? Klo dari saya pribadi si lebih baik pindah ke desa lain”%$&%^^)&&&&^^%%##*^&(&

Kades : “memang klo khusus tuk potensi pertanian sekarang desa bendungan itu sudah tidak ada yah”$%^%^&(*^^%#@&^&**()

UPT : “klo di desa bendungan yah pertanian tuh memang sudah tidak ada…….”

Statement2 itulah yang menjadi mimpi buruk buat kita selama tiga hari ini… inilah kenapa ane sebut sebagai “the real challenge” and “the Really2 problem”….. klo mungkin sebagian besar kelompok gladikarya laen sudah memiliki komoditas yang bisa mereka analisis di sini kita bener2 berangkat dari ‘NOL’… wow…

Lanjut ke agenda hari ini… stelah briefing sekitar jam 09.00 kita semua berangkatz ke kantor desa maksud tuk ktemu pa sekdes dan bu kadesnya… eh ngga lama ktemu pa sekdes kita langsung dibawa ke kecamatan lantaran memang sedang ada pertemuan di sana… ya memang kebetulan kita pun punya agenda tuk berkunjung ke sana… ya cabutlah kita…

Sampe di kecamatan kita nyempetin ngasih surat pengantar dari kesbang sebagai perizinan kegiatan gladikarya kita, abis itu eh kita ktemu ma kades desa cileungsi tempat kang wahyu gladikarya… begitu kedes cileungsi ngliat kita pada di kecamatan, rupanya ngga mau kalah, beliau pun nyuruh kita tuk mengajak kelompok cileungsi tuk ke kecamatan juga… kebetulan memang saat itu kita diundang langsung secara lisan oleh pa camatnya untuk bisa ikut rapat dengan inspektorat bogor… wow… ya kita telpon lah si yadi salah satu anggota kelompok gladikarya cileungsi…

Hampir setengah jam rapat berjalan, mulai dari jam 10.30 ampe jam 11.00 rupanya rombongan si yadi blom dateng2 juga…

panjang umur kali ye,ngga lama diomongin dateng juga tuh rombongan… jengjengjeng… sayang mereka kurang beruntung rupanya… ga ampe 2 menit mereka dateng eh tuh rapat udah rebezzz… akhirnya dateng Cuma numpang nyicipin gorengan pisang ma minum aqua yang dah tersedia bwt rapat… “anda kurang beruntung” …. tapi ngga masalah juga si, isi rapatnya juga kita yang pada denger kga ngerti dan sama sekali ngga punya hubungannya ama gladikarya kita….. yah Cuma punya nilai prestise yang tinggi aja bwt kita… “jarang2 bisa rapat langsung ma camat, inspektorat bogor, truzz ma kades2 se kecamatan ciawi pula”… beuh…

rebezzz rapat, mumpung lagi pada ngumpul bersua lah kita pada… ngobrol2 ngga jelas, mulai dari kondisi kita pada selama dua hari sbelumnya ampe udah dapet apa aja selama itu… rupanya cukup menyedihkan kondisi saudara kita di cileungsi ini… saking pedalamannya makan pun sulit, 2 hari ini mereka makan mie truzzz… haduh… sabar ya kawan…

harus banyak bersyukur rasanya kita di bendungan, walau banyak problem tp untuk kondisi kesejahteraan mah cukup layak lah… makmur boleh dibilang… ane ma dhida saat itu juga punya rencana tuk kapan2 maen berkunjung ke lokasi GK mereka untuk melihat sejauh mana penderitaan mereka selama ini… heu… ngga segitunya… maksudnya ya silaturahim, n klo emang ada rizki ya bawa2 makanan kecil lah bwt mereka… heuheu.. kesian sekali…

yah, puas bercengkerama, waktu pun memang harus memisahkan kita… kerana ada agenda lain yang memang sudah kita rencanakan sebelumnya, berangkatlah kita menuju UPT wilayah VII yang lokasinya bersebelahan dengan kantor UPT Perikanan Dan Peternakan yang kemarinnya kita kunjungi… hasil wawancara ngga jauh2 dari hasil2 wawancara survey sebelumnya, sedikit banyak gnilaah apa kata mereka………..

UPT VII : “klo pertanian, peternakan, perikanan si bisa dibilang sudah ga ada… Mungkin sebelumnya LPPM tidak melakukan survey terlebih dahulu, hanya melihat sekilas di depan ada perikanan aja… tolong aja nanti direkomendasikan supaya sebelum menempatkan mahasiswa untuk KKN untuk dilakukan survey pendahuluan dulu, supaya ngga gini lagi kejadiannya…… klo saran dari saya si lebih baik pindah desa…”#^@$#%^*&^*(&*)*(&(%^^%$#@$@%#$&^&()

Gtulah apa kata mereka… kecewa, putus asa, pesimis, ampe hopeless dah campur aduk dah….. lagi2 sambil truzzz memotivasi diri “inilah tantangan yang memang sebenarnya harus kita hadapi, pasti ada potensi desa yang memang belum mereka sadari, dan itulah mengapa ALLAH menempatkan kita di sini”… dengan keyakinan itu langkah kita pun semakin tegap ke depan… BIsmillah……….

Melihat kondisi desa yang memang udah kaya gtu… informasi pun terbatas… perlu memang kiranya kita sendiri yang menyusuri desa melihat potensi yang memang nyata terdapat di bendungan village ini… bermodalkan asa yang masih membara, berangkatlah kita ke kantor desa tuk minta dibuatkan surat pengantar tuk wawancara dengan ketua2 RT dan RW di seluruh wilayah bendungan village…

Sambil ngobrol sehabis shalat dzuhur kita pun menunggu dengan setia surat pengantar itu selesai dibuat….. ampe kira2 jam 15.30 baru rebezzz dah tuh surat… bgitu kita mw minta tuh surat eh ternyata kata pa sekdes biar nanti disebarin aja langsung ke rw2nya… Alhamdulillah dalem ati mah… dari tadi aja pa ngomong… kita pan jadi kga pada nunggu…

Tau gtu, kita pun akhirnya langsung pamit tuk istirahat kembali ke kontrakan… fuuh capeknya..

Ngga lama nyampe kontrakkan, istirahat bentar, rupanya kita udah punya janji dengan pengurus PNPM yaitu pa’ Haqqiudin tuk wawancara… tepat jam empat kita ternyata dah ditunggu di rumah kediamannya… beuh… sementara si nyonya2 pada kecapean, akhirnya ane ma dhida terpaksa berangkat Cuma berduaan… smangadh bank…

Sampe di rumah pa’ haqqiudin dari beberapa kali nyasar kita pun langsung diterima oleh pa haqqiudinnya sendiri… sudah lama menunggu rupanya… sungguh terlalu ni mahasiswa… ngga sendiri, rupanya beliau juga ditemani oleh coordinator PNPM BKM Al-Falah pa Daman… ke dua orang ini begitu ramah nan baik hatinya rupanya… dari sekian banyak obrolan atawe wawancara yang udah kita lakukan sebelumnya, baru kali ini wawancara kita berasa adem di ati… beliau2 ini rasanya memang bener2 mengerti kondisi kita… satu visi kali ye, pengen sama2 mensejahterakan masyarakat desa bendungan… cah elah… ya intinya mereka siap membantu klo memang kita membutuhkan, dan dengan sepenuh hati mendukung setiap program yang kiranya bakalan kita lakukan… alahamdulillah…

Saking enaknya ngobrol ma pa haqqiudin dan pa daman, kga berasa rupanya adzan magrib pun memanggil kita tuk kembali pulang… alah… intinya emang kita dah pada puyer… fuuuh… sementara dhida nganter pa daman yang juga mw pulang, kebetulan emang searah ma perjalanan pulang kita ke kontrakkan, nah ane langsung aja dah pulang… hahaha…

Cukup segitu dah perjalanan tuk hari ini… mudah2an esok senantiasa selalu menjadi hari yang lebih baik lagi… amiiin……………………

To be continue…………………….