
-belajar melihat-
Dalam konteks perdebatan seringkali kita menjumpai pihak-pihak ataupun kubu-kubu yang saling membenarkan diri mereka masing-masing. Satu hal yang sangat wajar melihat tiap diri punya mata yang berbeda. Tidak hanya pada hal-hal yang berat bahkan hal-hal ringan sekalipun, tidak hanya pada hal-hal yang syubhat bahkan hal-hal yang zahir sekalipun, dan tidak hanya antar lawan bahkan antar kawan sekalipun. Ngga usah jauh-jauh, di lingkungan kampus saja. Hampir tiap hari saya berjumpa dengan aktor-aktor canggih seperti ini.
Pertama bisa dijumpai dalam lingkup dakwah kampus sendiri, penulis tidak jarang melihat perdebatan-perdebatan aneh seperti ini. Yuukzz…
Bahlul 1 : “perayaan-perayaan seperti itu itu bid’ah akhi..!!”
Bahlul 2 : “tapi dalam konteks bid’ah juga kan ada yang di sebut bid’ah hasanah, dan itu dibolehkan akh. pada dasarnya setiap perbuatan itu hukumnya kan boleh, kecuali memang ada dalil yang mengharamkannya..”
Bahlul 1 : “dalilnya apa akh?!
Bahlul 2 : “ga usah pake dalil-dalilan dah yang penting kan baik”
Bahlul 1 : “nah itu salahnya. yang bikin islam itu ancur saat ini kan bid’ah-bid’ah seperti itu”
Bahlul 2 : “klo niatnya untuk kebaikan dan mencegah maksiat apa ngga lebih baik dikerjakan??”
Bahlul 1 : “maksud nte??!”
Bahlul 2 : “daripada kemudian pas malam taun baru pada pacaran misalnya, lebih baik kan kita mengajak mereka untuk sama-sama kumpul merayakan tahun baru hijriah dengan ngaji dan merefleksi diri misalnya”
Bahlul 1 : “ya klo dalam hal mengajak pada kebaikkan c itu sah-sah aja, tp perayaannya itu yang harus digarisbawahi. jangan sampai hal-hal seperti itu justru dianggap menjadi suatu hal yang wajib bagi mereka, klo dah merasakan itu sebagai hal yang harus dilakukan, nah itu bid’ah namanya”
Bahlul 2 : “itu c tergantung dari bagaimana pribadi-pribadi mereka dalam menyikapinya. yang jelas kan sebenarnya perayaan-perayaan seperti itu Cuma sebagai instrument mereka saja untuk kemudian mengingat ALLAH ”
Bahlul 1 : “nah itu yang dianggap rawan. klo begitu saja menyerahkan semuanya pada pribadi masing-masing ya jelas akan membuka kemungkian semua itu menjadi bid’ah..!!”
Bahlul 2 : “tapi bukan kemudian kita mengeneralisir semuanya kan?!!”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Begituuuu aja seterusnya, muter-muter disitu-situ juga. Dari mulai bid’ah sampai harokah, dari bedug subuh ampe bedug subuh berikutnyahhh. Sampai mereka pun ngga sadar bahwa mereka masing-masing telah lalai dengan kewajibannya lantaran debat sia-sia yang intinya satu suara jika mau untuk ‘belajar melirik’ mereka untuk melihat lebih sempurna. Sana-sini bid’ah shalatnya ‘ya sudahlah…’
Buat orang ketiga yang duduk bersama mereka berdua, mungkin ini menjadi pertunjukkan wayang yang membosankan. Seperti kipas angin yang mendinginkan suasana, keberadaan dia Cuma sebagai juri sekaligus wasit atau time keeper yang menjaga debat kusir tersebut berlangsung aman tanpa hambatan. Panjaaaaaaa……ng ngga ada habisnya.
Belum lagi beberapa kesempatan akhir-akhir ini. Beberapa kali saya bertemu dengan hal-hal yang serupa. Saya sendiri merasakannya. Lantaran kiriman note berisi do’a akhir tahun yang ane tag ke salah seorang sahabat tercinta, beliau lantas berkomentar..
Sobat : “eh, apa dalilnya itu do’a yang lo tag??”
Ane : “yah yang namanya do’a akh.. selagi itu baik”
Alhamdulillahnya c Cuma sampai disitu aja beliau bertanya, setelah sebelumnya memang diawali juga dengan ketegangan saya kala menyikapi acara blogger yang sebelumnya saya ikuti. Pertanyaan yang sederhana dan baik buat koreksi pribadi namun kemudian sedikit nusuk serta menggoyahkan niat ane yang tadinya dengan tulus untuk memberi dan mengajak beliau pada kebaikan menjadi dumel bin keseul yang berkepanjangan. Mungkin klo kemudian beliau bertanya lebih jauh lagi, bisa saya jambanin juga tuh… alah.. emossssi..!!
Tambah lagi kemaren, Cuma lantaran kaos hampir satu kelas perkuliahan berantem. Ada-ada ajjah.. Gara-gara tulisan iseng dalam kertas edaran pemesanan kaos angkatan, penanggung jawab pembuatan kaos itu pun bersitegang dengan teman-temannya sendiri. Sederhananya beginilah jalannya pertempuran.
Sobat PJ : “di kertas edaran ini ada tulisan-tulisan seperti ini ‘ni ukuran kaosnya valid ga sih? bisa liat sampelnya ga? Jangan sampai kaya AGRIGATE…!!!’
Sejenak seisi ruangan kelas pun menjadi hening tanpa denting.
Sobat PJ : “saya minta tolong yang nulis ini ngaku dan maju ke depan..!!”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Panjang sebenarnya itu omongan. Cuman redaksinya saya agak lupa. Tapi intinya c seperti ini.
Sobat PJ ketika itu tidak menerima tulisan yang dianggap menyindir telak beliau. Sampai beliau habis berkata, tidak ada seorangpun yang berani mengakui tulisan itu. Hingga keluar pernyataan.
Sobat PJ : “klo memang ga setuju saya megang proyek ini ya ini silahkan ambil (sambil melemparkan lembaran kertas pemesanan pembawa ketegangan).”
Yang membuat beliau sangat marah adalah tentang AGRIGATE di dalamnya. AGRIGATE merupakan sebuah kepanitian acara dimana di dalamnya beliaulah yang menjadi ketua pelaksananya. Entah apa yang sebenarnya terjadi saat AGRIGATE, yang jelas point itulah yang jelas-jelas membuatnya sangat marah bin gerah.
Yah begitulah ketika narsistme yang tadinya dibanggakan mulai menyentuh makna yang tak terkendalikan. “Sadari dan benahi itu”.. insyaALLAH..
Oh iye, satu lagi. Ini sedikit punya konteks yang lebih luas bahkan sangat. Tapi kemudian coba saya ambil dalam studi kasus di lingkup mahasiswa aja. Bagaimana baru-baru ini kampus dipanaskan dengan megakasus bank Century. Ramai-ramai mahasiswa yang tergabung dalam kelembagaan BEM, dan segelintir mahasiswa lain di ranahnya mengkritisi kebijakan pemerintah dalam mengambil langkah bailout untuk penyelamatan bank sekarat tersebut dalam demo besar-besaran yang ketika itu bertepatan dengan hari Pemberantasan Korupsi Dunia.
Luar biasa memang mahasiswa. Idealismenya untuk membela kepentingan rakyat menembus batas-batas rasional mereka walaupun hanya sesaat. Hiddup Mahhasiswa..!!!
Dari ketiga studi kasus di atas, “ciye studi kasus.. manstabbbGAN..!!”, hal yang kemudian saya tawarkan di sini adalah bagaimana sikap kita sebaiknya ketika berhadapan dengan kondisi serupa di atas. Berikut merupakan pendapat dangkal saya menyikapi masalah dangkal di atas, yang kemudian saya sebut dengan DONKOL Teori..
DONKOL Teori.. yaitu teori yang tepat untuk diimplementasikan ketika hati kita merasa donkol saat dihadapkan dengan debat konyol lagi ngocol..col..col..col..
D : Dual Position.. dalam arti mencoba menempatkan diri dalam dua posisi yang berbeda dan dianggap saling berlawanan. Dengan sikap seperti ini kita mencoba menarik alasan mengapa pihak lawan mengambil pendapat yang diyakininya tersebut.
O : Out Orientation.. menempatkan orientasi bukan untuk pribadi ataupun golongan kita semata. Menempatkan orientasi masalah di luar kepentingan pribadi sehingga mampu melihatnya dari dua sisi bersamaan secara sempurna.
N : Net Protection.. berusaha menjaga pihak lawan. Ini etika yang seringkali kita lupakan ketika berdebat dengan lawan. Bahkan seringkali timbul upaya-upaya kita sendiri untuk menjatuhkan pihak lawan. Padahal dalam konteks perdebatan, opinilah yang harus dikedepankan bukan siapa sosok di hadapan.
K : Kill Emotion..
O : Open Mind..
L : Long Time..
Silahkan artikan sendiri redaksinya yah.. puyer juga… DONKOL juga jadinya.. heuuuh..
-masih dalam revisi-