Pagi itu dia terlihat aneh. Wajahnya yang biasanya segar, tenang, dan penuh percaya diri tiba-tiba hampa tak seperti biasanya. Mungkin dimata sahabat lain ini biasa tapi tidak dimataku sahabat dekatnya. Matanya seakan berbisik “hai sahabat, aku ingin bicara” tp lisannya tak juga berucap itu ke padaku. Diamnya penuh tanya justru membuatku kaku dan tak mampu berkata apa-apa di depannya. Seakan seperti virus mematikan yang menjalar cepat pada siapa yang ada di dekatnya, begitulah aura yang keluar atas sikapnya.
Ini bukan dia sebenarnya. Sekalipun dia berusaha seperti kondisi sebagaimana biasanya tp ku tahu ini bukan dia sebenarnya. Berusaha mengalahkan prasangka yang ada ku coba bercanda sebagaimana sediakala. Sesekali dalam obrolan canda kami bersama sahabat lainnya, pikirannya seakan terpecah hingga tak sedikitpun merespon candaan yang ada. Tapi itulah dia, yang pandai menutupi semua.
Ku coba meyakinkan diri bahwa ini mungkin hanya sementara. Sebagaimana manusia biasanya tentu adakalanya ia punya rahasia yang membuatnya tak sperti biasa. Ku coba abaikan dan ku pergi berajak jauh meninggalkannya untuk aktivitasku sperti biasa. Bgitupun dengan dia sahabatku tercinta.
Hingga akhirnya matahari mulai memicingkan matanya, aku sampai di rumah sewaku tercinta. Tak sperti biasa, dia ternyata blum ada dalam kamar tidurnya. Hingga suara Fitnya menyambut ku berada, kuharap dia kembali mengenakan wajahnya sediakala. Namun apa yang kudapati dari wajahnya, oOh wajah sorenya justru lebih tak sedap dipandang mata.
Seperti biasa ku hampiri dia memasuki kamar sempitnya. Ku tak pedulikan dia punya wajah yang segan tanpa cahaya. Ku berbicara pd dia penuh canda, lagi2 ku tak sanggup brtanya ada apa atas dirinya. Responnya hanya smentara dan apa adanya, tak sedikitpun berusaha memulai kata2 layaknya biasa. Tapi lagi2 itulah dia. Sikapnya berusaha mnutup benak hati didalamnya, tp ku tahu dia bukan dia yang sebenarnya.
Ada apa sahabat??? Gumamku dalam hati yang penuh tanya.
Tak lama dia berada dalam kamarnya ku perhatikan di bersiap diri untuk kesibukan berikutnya.
Aku : Mw kemana nte akh??
Haikal : Mw ke masjid akh. Ada halaqoh ane.
Aku : Ooh..
Halaqoh memang sudah menjadi agenda rutin setiap pekannya. Tak seperti ana dia memang punya komitmen yang luar biasa untuk menjaga kondisi ruhiahnya. Tak jarang harus bersusah payah menempuh Bogor-Jakarta hanya untuk liqo bersua dengan ustad dan seperjuangannya. Itulah panggilan hidayah yang tak kudapati seperti dirinya, lelah pun tak membuatnya goyah.
Kembali ke dalam kamarnya. Ku semakin pnasaran dg apa yg terjadi padanya. Ku berakal mncari apa sebab yang membuatnya berbeda.
Aku : Akh, ane pinjem laptop ma modem nte ya???
Haikal : Yawdeh. Sok aja. Lama ngga??? Klo lama bawa aja.
Aku : Ngga, paling bentar.
Haikal : Ane ttip kunci aja klo gtu. Mw buru-buru liqo ane.
Aku : oOh yawdeh sini.
Berangkatlah dia menuju maksud agendanya.
Pikirku yang singkat, inilah saat ku mencari jawab atas apa yg terjadi pada dirinya. Hobinya menulis mendorongku berprasangka mungkin semuanya tercurah dalam tulisan di laptopnya. Dan benar saja dg apa yang kukira, tanpa bermaksud buruk pada dirinya kutemukan dalam folder pribadinya, inilah dia:
'Bingkai Hati' untuk diri-NYA.
To Be Kontinyu…
Thursday, March 17, 2011
Pergi dan Kembali untuk-MU
Pergi dan Kembali untuk-MU
Secarik harap kugoreskan dengan tinta hitam ghirah hidupku
Asa kian membumbung menyeretku berpeluh mengejar sabar raih awan impian itu
Tak peduli sekian mata picingkan mimpiku
Ku berlari berlelah lemah di teduhnya azam yang takkan pernah kubiarkan padam
Dalam nurani kuakarkan “bisa bersama-MU”
Dalam raga kudekapkan sandaran “sampai karena-MU”
Dalam fikir kusematkan “ada untuk-MU”
Kusadar kian masa asa kian bergerak mendekatiku
Kusadar kian masa asa kian bergerak menjauhiku
Asa datang sebab ikhtiarku
Asa pergi sebab kelalaianku
Kubiarkan asa itu membumbung menjauhiku
Namun takkan pernah kubiarkan asa itu tak tercapai untuk diriku
Biarkan asa itu menjadi pelecut pecut perjalanan hidupku
Karena dengan asa ku bisa bersama-MU
Dengan asa ku bisa bersandar karena-MU
Dengan asa ku bisa menjadi ihsan untuk-MU
Hingga ku dapatkan asa itu dalam pelukku
Ku bahagia dalam pergi dan kembali untuk-MU
insyaALLAH…
Secarik harap kugoreskan dengan tinta hitam ghirah hidupku
Asa kian membumbung menyeretku berpeluh mengejar sabar raih awan impian itu
Tak peduli sekian mata picingkan mimpiku
Ku berlari berlelah lemah di teduhnya azam yang takkan pernah kubiarkan padam
Dalam nurani kuakarkan “bisa bersama-MU”
Dalam raga kudekapkan sandaran “sampai karena-MU”
Dalam fikir kusematkan “ada untuk-MU”
Kusadar kian masa asa kian bergerak mendekatiku
Kusadar kian masa asa kian bergerak menjauhiku
Asa datang sebab ikhtiarku
Asa pergi sebab kelalaianku
Kubiarkan asa itu membumbung menjauhiku
Namun takkan pernah kubiarkan asa itu tak tercapai untuk diriku
Biarkan asa itu menjadi pelecut pecut perjalanan hidupku
Karena dengan asa ku bisa bersama-MU
Dengan asa ku bisa bersandar karena-MU
Dengan asa ku bisa menjadi ihsan untuk-MU
Hingga ku dapatkan asa itu dalam pelukku
Ku bahagia dalam pergi dan kembali untuk-MU
insyaALLAH…
Subscribe to:
Posts (Atom)


