Tuesday, June 22, 2010

Gara-Gara Jaket


Sepenggal kisah dalam Trilogi Anekdot "Mahasiswa Setengah Durja"

Rupanya emang urat sopan ni Peyo emang udah putus. Bayangin di forum diskusi mahasiswa yang di situ di moderatorin ma seorang dosen senior, sebut saja Prof. Dr. Betty Lafeya Phd, yang dikenal begitu mencintai pesona budaya batik kita. Tapi dasar si Peyo masih sempet-sempetnya aja ni orang bikin ulah. Lagi-lagi dia buktiin bahwa dosen itu bukan siapa-siapa baginya. Tanpa melupakan rasa hormatnya, dosen dah seperti sahabatnya sendiri yang menurutnya dibecandain ya sah-sah aja. Gini lah dia punya ulah:

Pemaparan materi yang disampaikan oleh mahasiswa dari hasil penelitian atau biasa kita sebut Lokakarya hasil KKN pun telah selesai dipaparkan. Kini saatnya giliran sesi tanya jawab dengan forum diberikan oleh sang dosen moderator. Waktu yang dialokasikan moderator katika itu Cuma 15 menit dan ini betul-betul dimanfaatkan forum diskusi untuk bertanya kepada penyaji.

Rupanya hasil penyampaian penyaji begitu menarik untuk didiskusikan sampai-sampai hamper sebagian besar forum mengangkat tangannya untuk bertanya, tak terkecuali si Peyo. (*ga nyangka, padahal dari sekian penyajian hasil penelitian sebelumnya si Peyo belum sesekalipun bertanya, yang ada paling main PSP diem-diem di ruangan). Sayangnya hamper di setiap kesempatan bertanya acungan tangan si Peyo ini ngga mendapat sambutan baik dari sang dosen. Tak pelak gagal lah 2,3 kali maksudnya untuk bertanya (*tergantung amal emang Yo). Bla..bla..bla..bla… 5,10 menit waktu tanya jawab pun berlalu dan mulai menghinggapi injury time sesi tanya jawab.

Rupanya setelah sekian kali gagal mendapatkan kesempatan untuk bertanya si Peyo pun dah mulai ngga bernafsu untuk bertanya lagi, dan dengan sopannya ketika dosen memberikan kesempatan terakhirnya kepada forum untuk bertanya tiba-tiba dia berdiri setengah badan untuk kemudian mengenakan jaket hendak bersiap-siap pulang (*saat itu memang penyajian terakhir dari hasil penelitian mahasiswa). Namun alangkah kagetnya forum ketika itu melihat yang ditunjuk dan dipersilahkan moderator untuk bertanya adalah justru si Peyo dudul ini. Dan lebih mengagetkan lagi ditengah situasi hening ketika itu si Peyo dengan lepasnya menebar senyum bahagia pada seisi ruangan forum. “Singit amat ni bocah..” itu mungkin ungkapan hati teman-teman forum ketika itu.

Dosen : “Coba kamu yang pake jaket coklat, yang sudah bersiap-siap mau pulang, silahkan bertanya..” Dengan nada yang sedikit masygul.

Rupanya sang dosen saat itu sedikit kesal melihat sikap si Peyo yang sudah terlihat bersiap-siap untuk pulang dengan mengenakan jaketnya, padahal memang forum diskusi ketika itu belum berakhir, bahkan tanggapan sang dosen terhadap penyajian hasil penelitian serta closing statement dari beliau pun belum disampaikan. Dan dengan sambil tersenyum lepas Peyo pun bertanya.

Peyo : “Terima kasih kepada ibu yang telah mempersilahkan saya untuk bertanya…..”

Tapi rupanya belum sampai si Peyo menyampaikan pertanyaannya sang Dosen tiba-tiba memotong.

Dosen : “Selain memang merupakan kewajiban mahasiswa saat lokakarya kampus, harusnya kita bisa dengan bangga mengenakan batik. Ini kan budaya bangsa kita kenapa harus ditutup-tutupi. Apalagi dengan jaket lusuh. Ibu hamper setiap hari mengajar dengan mengenakan batik, karena memang itu harus kita biasakan. Ibu khawatir nasionalisme kita memang semakin pudar. Untuk mengenakan batik dengan bangga tanpa harus ditutup-tutupi saja kita malu.. yah.. coba sama-sama mahasiswa biasakan. Ini juga kan ngga setiap hari kita lakukan.”

Dua, tiga detik seketika mendengar ucapan dosen seperti itu suasana pun semakin hening dan mulai tidak nyaman bagi mahasiswa-mahasiswa lainnya. Sekian pasang mata mahasiswa dalam forum pun mulai menatap tajam ke arah si Peyo (*gemes melihat ulah si Peyo). Akan tetapi lagi-lagi memang dasarnya “Mahasiswa Setengah Durja”, di tengah-tengah suasana yang serba mencekam tersebut dengan santainya dia bertanya seraya tersenyum lepas di hadapan forum.

Peyo : “Iya, mohon maaf ibu sebelumnya.. (*rupanya ternyata Peyo sadar juga akan ulahnya). Karena nasionalisme saya ada di dalam hati bukan di jaket jadi saya hanya akan menanyakan tentang bagaimana sebenarnya peluang pasar yang ada untuk produk ini mengingat sebenarnya nilai fungsional dari produk tersebut sudah terwakili dengan bahan dasarnya yaitu jambu merah itu sendiri. Bukankah ini kemudian akan berbenturan??? Bla..bla..bla…………………………………………..”

Mendengar pemaparan pertanyaan dari si Peyo rupanya forum sedikit tergelitik dengan celetukan awal dia tentang nasionalismenya itu. (*Karena nasionalisme saya ada di dalam hati bukan di jaket…), serta terkagum dengan isi pertanyaan si Peyo yang memang betul-betul mengena dengan hasil penyajian penelitian tersebut. (*ckckckck… ngga nyangka congor Peyo bisa juga ngomong kaya gitu). Itu dapat ditarik dari bagaimana tanggapan dosen setelah penyaji berusaha menjawab yang membahas dengan panjang lebar isi pertanyaan dari si Peyo tanpa menanggapi lebih lanjut celetukan iseng si Peyo itu. (*Wow.. dasar Peyo).

Hingga suasana mulai kembali kondusif, lokakarya pun berakhir dan ditutup dengan penuh bahagia oleh sang dosen moderator.

Penasaran dengan tingkah si Peyo yang seakan tanpa dosa bikin ulah di dalam forum, Kubil salah satu sahabat dekatnya pun menghampiri Peyo kemudian bertanya.

Kubil : “Eh geblek, enak-enaknya lw dari tadi cengar-cengir kaya kaga punya salah abis bikin dosen kesel.. Kampret emang lw..”

Mami : “Tau ni ih mamang..”, timpal sahabat perempuannya. (*panggilan mamang emang jadi brand image si Peyo di kalangan kembang kampusnya)

Peyo : “Gw seneng masa ga boleh senyum??”

Kubil : “Seneng apanya lw diomelin gitu, geblek..!!”

Peyo : “Ya seneng lah.. Lw bayangin ampe tiga kali gw ngangkat tangan dari yang enjoy ampe berasa pegeul eh gw kga dikasih-kasih nanya ma si Ibu. Ngangkat tangan kga dianggep ya gw angkat jaket gw. Eh manjur.. Apa yang salah sob??”

Mami : “Maksudnya?? Emang tadi mamang ngankat jaket??”

Peyo : “Maksudnya, ya mamang pake jaket supaya nutupin batik kebanggaan si Ibu. Lagian maksudnya kan biar batiknya ngga kotor jadi dilindungin ma jaket. Hehe.. Gw si mendingan diomelin daripada keberadaan gw ga di akuin”

Kubil : “Cerdas juga lw Yo”

Mami : “Dasar mamang-mamang.. Ada-ada aja c..”

Peyo : “Kata lw geblek Bil..” sambil beranjak pergi meninggalkan dua sahabatnya tersebut.

Seminggu berlalu semenjak tragedy mencekam tersebut hebatnya sosok si Peyo dudul ini justru semakin akrab dengan sang ibu dosen moderator. Entah apa jimat bin pellet yang dia pake, ya begitulah si Peyo.

Dua jempol dah buat MAMANG!!

TO BE KONTINYU..!!

No comments: